Ada perdebatan gejolak hati yang sulit aku tembus, sejak kamu tau dia menjadi begitu yang kamu damba, seketika kamu ingin membawa dirimu kesana padanya, tak peduli sejauh apa.
Lantas kamu ingin pergi dari duniamu ke dunianya yang kamu tau tidak lagi sama.
Perdebatan ini tak kunjung usai, kamu mulai mencari cara bagaimana kamu bisa pergi dari tempatmu berada yang entah bagaimana menjadikanmu sekarang.
Sebenarnya apa yang kamu mau? apa yang kamu tunggu? mimpimu kerap kali berubah seiring waktu, seiring kamu bertemu , seiring kamu tumbuh dan seiring kamu melihat hidup.
Keinginanmu untuk tinggal tak lagi bertahan, pergi adalah harapanmu yang kamu kejar. Namun waktu tak pernah semudah ketika ia merubah detik menjadi menit dan menit menjadi jam, hingga tahunan kamu menanti.
Pikirmu kamu sendiri, pikirmu kamu bebas memilih kemana kamu ingin pergi, tapi tidak. Kamu telah menjadi harapan bagi kehidupan orang lain, kamu ditunggu oleh mereka yang siap mengandalkanmu. Kamu bukanlah milikmu sendiri.
Kamu tidak mungkin semudah itu meninggalkan hidupmu untuk mengejar egomu. Ada banyak harap yang menantimu pulang, tapi egomu ingin sekali pergi jauh. Perdebatanmu antara Tuhan dan Semesta berlanjut, doamu kian mengiringi langkah setiap saat, mimpimu untuk pergi jauh rasanya belum sampai pada saatnya. Lalu dia yang menjadi motiviasimu pergi kini menggantung jelas ditatapmu, berdampingan dengan serangkaian To-Do list harianmu, sebagaimana pengingat agar kamu tak pernah lupa, karena kamu percaya apa yang kamu lihat dan ucap dalam doa setiap saat akan berubah menjadi mantra yang nyata.
Dan mulailah pagimu dengan dengan harap yang menggantung tepat dihadapmu, sebelum memulai hari yang telah menjadi rutinitasmu kini, namanya ada dalam list daftar harapanmu, selain kutub utara.