Saturday, September 19, 2020

"Bye"

Tidak seperti hari-hari yang lalu.
Harusnya hari itu menjadi malam yang aku tunggu.
Kita akan bertemu.
Namun...
Membayangkan bertemu denganmu saja rasanya perih.
Aku tak bisa lagi berpura-pura bahagia di hadapanmu.
Jika aku harus mengulang lagi masa-masa itu, rasanya aku tak sanggup.
Tidak untuk kali ini, detik ini.

Rasanya tidak perlu ku jelaskan lagi, jika perasaanku masih sama. 
Aku terlalu jatuh, hingga tak punya keberanian untuk melihatmu.
Aku terlalu merasa, hingga aku tak tahu lagi harus apa.
Dan aku terlalu jauh bagimu untuk bisa tetap ada.

Dari kejauhan kamu selalu nampak mempesona setiap waktu.
Sejenak dalam hati bergumam, kenapa harus kamu?
Tidak ada satu menit pertemuan kita.
Kamu mencoba biasa. 
Tapi hatiku rasanya tak karuan. 
Aku benar-benar tak tahu harus apa.
Aku benar-benar kehilangan keberanian.
Sekali lagi, aku benar-benar jatuh cinta dan patah hati disaat yang sama.
Hanya satu kata yang bisa terucap dariku saat itu.

Selamat tinggal.



 


Sunday, September 6, 2020

Rindu Bahagia

Ternyata selain kamu, ada hal yang jauh lebih aku rindu.
Seorang sahabat mengingatkan aku tentang sebuah memori kala itu.
Saat aku merasa sangat bahagia tertawa bersama tanpa ada beban.
Aku rindu masa-masa itu. 
Tak ada pikiran yang tak perlu. 
Hanya ada aku dan moment bersama menikmati hidup.
Sejenak lupa rasanya jatuh.
Semua penuh canda tawa bahagia bersama.
Dengan mereka semua yang membuat dunia lebih bermakna.
Ternyata aku pernah bahagia.
Menikmati hidup dengan apa yang kita punya.
Andai aku bisa kembali kesana dan mengulang cerita.
Bertahan lebih lama agar bisa tetap merasa.
Dunia ini indah jika kita mau menikmatinya.

Saturday, September 5, 2020

Sebelum Tengah Malam

Belum lewat tengah malam, tapi pikiran ku sudah kemana-mana.
Aku bertanya pada diriku sendiri, sampai kapan kamu akan terus ada dalam pikiran?
Iyaa, itu masalahku sendiri dan aku menerimanya.

Ingin rasanya kembali berbincang, soal apa saja. 
Sekedar memberitahu kita sedang apa.
Atau menuliskan pikiran dalam benak saat itu juga.
Tapi semua sudah tak bisa. 
Kita saling berjarak agar tidak perlu ada yang terluka. 

Lalu aku berandai, jika semua ini punya akhir yang berbeda.
Entahlah, dalam benak ini masih hanya ada satu nama yang terselip dalam doa.
Waktu terkadang membuatku bertanya-tanya.
Apa jadinya nanti kita?
Aku selalu butuh waktu lama untuk melupa. 
Salahku yang terlalu jauh menjatuhkan perasaan. 

Tapi aku tak punya pilihan lain.
Hatiku tidak memilih, ia tahu apa yang dia cari.
Hanya saja, kita belum menemukannya satu sama lain.
Mungkin tidak saat ini.

Aku tak percaya kebetulan,
Aku percaya semua hal kecil bahkan sudah dituliskan.
Seperti saat ini, saat aku kembali teringat lagi tentangmu.
Jangan tertawa jika aku bilang hampir setiap hari aku masih mengingatmu.
Berusaha melupa hanya terus membuatku ingat.
Berusaha menerima perasaan yang ada, tak semudah kata-kata.
Tapi aku bertahan.
Untuk terus melangkah kedepan.
Entah dengan cerita yang berbeda, atau apapun yang mungkin ada.


Hatiku masih sama.
Dan malam ini seperti biasa ada sedikit rindu untukmu
Yang mungkin tak akan pernah kamu tahu,
kalau pesan ini kusampaikan untukmu.
 



Friday, September 4, 2020

Tak Perlu

Aku menyapa, memastikan semua baik-baik saja.
Tapi hanya diam darimu yang kudapat.
Acuh yang membuatmu terlihat sedingin kutub selatan.
Aku tahu semua memang tak akan pernah lagi sama. 
Aku telah menghancurkan semua yang pernah ada.
Sekedar untuk menyelamatkan hatiku 
yang sebentar lagi  mungkin hancur berantakan jika aku terus bertahan.

Lalu kamu bertanya. "Aku salah?"
jelas tidak jawabku lantang.

Aku tidak bisa memilih dengan siapa aku jatuh cinta,
Aku tidak pernah memilih kepada siapa rasa ini ada.

Sayangnya perasaan itu tidak selalu jatuh di tempat yang sama. 
Seperti aku yang kemudian jatuh sendirian.
Tak ada yang perlu disalahkan. 
Dan tak akan memaksa mu untuk sama.

Tak perlu.



Counter