Monday, March 30, 2020

Saling berbagi

Hai, kamu baik-baik saja. 
Aku juga.

Kamu masih saja sama. Mengagumkan.
Aku tidak tahu harus bilang apa lagi.
Kata-kata pujian rasanya sudah habis seiring kita menyapa.
Kita sedang tidak bertemu untuk waktu yang entah sampai kapan.
Tapi selalu menyempatkan waktu untuk mengirim pesan.
Berbagi cerita dan manfaat.
Denganmu semua terasa jauh punya makna
Kehidupan rasanya terlalu berharga saat kita berbagi pembelajaran. 
Tetaplah berbagi kebaikan.
Menebar cinta dengan cara beragam warna. 
Dunia butuh banyak manusia sepertimu . 
Yang tak henti membagi cerita, ilmu dan semua hal baik yang kamu punya. 
Karena setiap kita punya cara untuk menjadi manusia seutuhnya .

Saturday, March 28, 2020

#Dirumah aja ?

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi hari ini, esok dan nanti.
Seperti saat ini. Dunia sedang sakit.
Tak luput juga negara ini, yang berdampak akibat Covid-19.
Indonesia menghimbau untuk sosial distancing. Jaga jarak.
Terdengar sederhana, tapi menjadi salah satu cara memutus rantai penyebaran.
Tentu saja tagar #dirumahaja makin hari kian gencar.
Sebuah kampanye positif yang patut di apresiasi untuk membantu negara ini pulih.
Namun untuk sebagian orang #dirumahaja bukanlah sebuah pilihan.
Kehidupan masih harus berjalan, roda perekonomian tetap harus berputar.
Bukan tidak ingin membantu pemerintah dengan tetap di rumah.
Tapi ada keluarga yang juga mesti bertahan, berjuang untuk esok dengan harapan semua akan membaik segera.
Kita tidak pernah tahu sampai kapan ini semua akan berakhir.
Setiap saat melihat berita, menghitung jumlah angka kematian.
Rasanya dunia sedang tak begitu ramah.
Tidak pernah ada yang berharap ini semua.
Kita hanya ingin semua kembali seperti sedia kala.
Kembali bertemu orang-orang tersayang.

Wednesday, March 25, 2020

Bertanya.

Ada rasa yang sedikit aneh saat tidak melihatmu ada di notifikasi.
oh yaaa, barang kali rindu yang selalu saja aku pungkiri.
Lalu kembali melihatmu di lini masa.
Lagu-lagu mu mengingatkan kepadaku,
betapa banyak kesamaan yang kita miliki.
Entah perasaanku saja atau kamupun menyadari.
Aku rasa kamu tahu.
Bukan waktu yang tepat saat ini.
jadi jangan sampai ke-egoisan ini menghancurkan apa yang sudah ada.
Waktu akan menjawab, cepat atau lambat.

Lalu terbesit sesuatu.
Mengapa kamu tidak dengan-nya saja?
Dia mungkin membutuhkanmu sebagai pelengkap hidup dalam waktu dekat.
Kalian berdua juga dekat, jadi jangan dipungkiri keadaannya.
Aku hanya ingin tahu, apa yang kamu rasa padanya.
Jika perih yang perlu ku terima, tak apa.
Semua akan baik saja.
Semua luka hanya butuh waktu untuk sembuh.
Hatiku pun begitu.

Tuesday, March 24, 2020

Kembali mencoba biasa ditengah rasa yang sedari awal tak biasa.
Sudah berulang kali, bukan yang pertama.
Berusaha menyemangati hati yang dibuatnya tak karuan.
Kadang bahagia, nelangsa sampai kadang ingin mati rasa saja.
Pikirnya semua ini kan lewat begitu saja.
Sembari bersama, membagi kisah walau kadang tak tahan.

Ada banyak doa di panjatkan, dengan sedikit harap.
Kadang juga ingin pergi menghilang.
Menutup mata dan telinga agar tak tahu apa-apa.
Ingin lari tapi tak mungkin.
Ingin hilang tapi hati kecil ingin selalu hadir.

Begitu saja berulang lagi.
Lelah yang entah kapan berujung indah.
lagi lagi satu kata. Yasudah.



Sunday, March 22, 2020

Penggalan Rasa.

Entah jiwa yang enggan berseru. 
Hati yang terlampau rapuh. 
Rasa yang menggebu-gebu.
Atau jarak yang membuat kita jauh.
Waktu yang aku tahu akan menjawab.
Rasa yang terlalu lama bersemayam.
Harap yang tak kunjung datang. 
Dan kamu yang terlalu lama berdiam. 

Pergilah sejenak. 

Friday, March 20, 2020

Menyapamu.

Haii, aku ingin kembali menyapa mu dari jauh, mendoakan yang terbaik dan mendukung mu selalu selama aku mampu. 

Aku tahu, mungkin aku tak terlalu berarti lebih untuk mu, kamu terbiasa dekat dengan banyak orang, terbiasa mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Lalu jika sekarang kita dekat, aku tahu mungkin tak ada yg istimewa.

Tapi untukku, kamu lebih dari sekedar ada. Belum pernah sebelumnya merasa senyaman ini dengan seseorang. Tak perlu aku menjadi siapa-siapa, aku bisa bebas menjadi aku yang terkadang terlalu aneh ini.
Iyaa kamu manusia extrovert yang bisa dengan mudah dekat dengan siapapun. 
Lalu aku, introvert yang super pemilih yang cuma bisa dekat dengan jenis manusia tertentu.
Kenapa aku begitu? Karena tidak semua orang bisa cocok dengan pikiran dan imajinasiku, dengan segala macam pemikiran yang kalo didengar orang lain, mungkin aku bisa dianggap aneh.
Tapi denganmu aku bisa menjadi aku. Semua hal bisa ku ceritakan tanpa perlu merasa canggung. 

Menemukan kamu setelah lebih dari seperempat abad hidup dinunia ini. Ohh betapa Tuhan Maha Baik. 
Jadi kamu tau kan betapa berharga nya kamu saat ini dihidupku. 
Lalu terbesit dalam benak, jika suatu saat nanti kamu jauh. Atau mungkin aku yang menjauh. 
Rasanya aku tak ingin pernah membayangkannya. 
Tapi semua mungkin saja terjadi. 

Sekalipun kita tidak selalu bertemu dan tak selamanya semua akan seperti ini, nama mu selalu ada dalam doa-doa ku. 
Bahagialah kamu selalu, dimanapun. 
Kalau hari ini mungkin tidak sebaik harapmu, bersabarlah. Aku yakin Tuhan punya rencana besar dan indah untukmu.
Kamu layak untuk bahagia dan layak dicintai. 

.... 


Untukmu, dari aku yang begitu banyak belajar darimu tentang hidup.
Terimakasih untuk semua hal yang sudah kita lalui.



Thursday, March 19, 2020

Friend's of mine

Setelah membaca tulisan seorang teman, aku jadi ingin menuliskan soal kalian. 
Sekedar untuk mengingat dan melegakan hati, untuk hal-hal yang kadang tak bisa dibagi. 
Sebenarnya kalian lebih dari sekedar tulisan ini. Ada banyak hal yang tidak bisa ku tulis, tapi setidaknya ini bisa jadi gambaran, betapa kalian sungguh berarti. 

........ 

Setahun belakangan ini kita begitu dekat, hampir tiap hari ngobrol di watssap, apapun bisa kita ceritakan, dan ga akan ada yang nge-judge satu sama lain.
Selalu ngedukung , meng-apresiasi, ngasih insight positif dan semua hal baik tentang apapun itu yang bisa kita bagi.

Seumur hidup di dunia ini, susah banget nyari temen yang frekuensi nya sama dan kalian hadir melengkapi hidupku yang selama ini ga pernah aku temukan sebelumnya.
Kalian berharga, lebih dari apa yang kalian kira.
Aku ga tau apa kalian merasa hal yang sama. Tapi introvert seperti aku ini engga gampang menemukan orang yang bisa benar-benar dekat.
Kalian teman diskusi, berbagi cerita, keluh kesah, bahagia, tangis dan semua emosi yang ada.
Se-nyaman itu ada dekat kalian. Se-bahagia itu ketemu kalian. Se-bersyukur itu Tuhan kasih kesempatan aku bisa dekat sama kalian. Terimakasih Tuhan.

Kalian semua orang yang selalu punya tujuan baik, yang selalu berusaha membagi kebahagiaan sama orang lain.
Yang berjuang untuk mimpi-mimpi, yang punya pandangan hidup baik.
Kalau boleh aku bilang, semua hal baik ada pada kalian.

Tiba - tiba kepikiran, gimana rasanya kalau harus kehilangan kalian suatu saat nanti.
Kita masih bisa bersama saat ini, bisa ngobrol kapanpun kita mau, cerita apapun.
Bikin janji buat sekedar denger cerita atau minum kopi teh bareng.
Sekarang iya, kita masih bisa ngelakuin itu semua.
Tapi semua ini ga selamanya kan?
Mungkin suatu saat semua akan berubah.
Saat kita punya jalan hidup masing-masing yang ga mungkin sama.

Waktu nulis ini, inget kalian saat kita sama-sama saling cerita, atau minum kopi teh bersama.
Rasanya takut kalau harus kehilangan.
Aku se-bahagia itu bisa sama-sama kalian sekarang.
Tapi tahu, kalau ga mungkin kita sama-sama terus.
Masing-masing kita punya mimpi, tujuan hidup yang ga cuma sampai disini.
Hanya tinggal menunggu waktu sampai kita ada pada kehidupan kita masing-masing.

Aku cuma mau bilang, kalau kalian itu sangat berharga, kalian semua patut berbahagia.
Doaku untuk kalian dimanapun berada, semoga kehidupan membawa kalian kepada harapan-harapan baik yang kalian impikan.
.

Untuk kalian yang mengisi hariku dengan penuh bahagia.
Rio, Sarah, Melia.

Terimakasih telah hadir di dunia.





Simply, I can't tell you it was you.


.... 
Bersamamu jadi bagian yang paling kutunggu saat ini. Walau aku tahu, kapanpun aku bisa jatuh dan terluka karenamu. Sering aku bertanya, apa aku sudah siap jatuh lebih jauh, terluka lebih dalam dan menangis lebih kencang. 
Atau memilih pergi menghilang tanpa alasan, aaahhh semoga saja tidak, kamu terlalu berharga untuk ditinggalkan, lebih baik aku yang memendam rasa, kalian layak berbahagia.
Kehilanganmu jadi hal yaang paling menakutkan untuk aku bayangkan. Semoga saja tidak. 

Kenyataannya aku masih disini, bertahan.
Bertahan dalam perasaanku yang ternyata belum juga hilang. 
Entahlah, seperti masih ada harap yang tersisa,
walau kadang aku berusaha sadar kalau aku mungkin bukan pilihan.

Kali ini kita punya waktu bersama lagi lebih lama.
Seperti yang kubilang sebelumnya, semesta punya cara membuat kita bersama entah bagaimana. 
Seperti biasa, kita memang nampak dekat, tapi aku bukan satu-satunya manusia yang dekat denganmu.
Kamu selalu punya cara membuat semua orang menyukaimu.
Tapi aku tak perlu itu. Aku bahkan sudah tau sejak pertemuan pertama kali kita bertemu. 

Kamu akan mulai bercerita tentang hal yang ingin kamu bagi, tentang apapun yang muncul dipikiranmu saat itu.
Sudah banyak hal yang aku tahu, namun tak menutup kemungkinan banyak hal juga yang belum aku tahu.
Aku senang saat kamu akan cerita hal apa saja tentangmu, bahkan aroma tubuhmu.
Rasanya aku seperti menjadi bagian dari kehidupanmu saat itu. 

Sore itu hujan lebat, kamu tepat berada disamping ku, sibuk dengan urusanmu.
Aku yang lebih suka menyendiri ini memilih mendengarkan musik.
Lalu seketika kamu membagikan sebuah lagu.
Kalau boleh jujur, aku pernah ingin membagikan lagu itu untukmu agar kamu tahu sedikit perasaanku, tapi ku urungkan niatku karena aku terlalu takut.
Lalu sore itu lagu itu resmi kudengarkan lagi darimu.
Entah apa maksudnya aku tak ingin mengambil kesimpulan apapun, karena setelahnya kita hanya membahas soal musik yang sama-sama kita dengarkan.
Entah ada maksudnya atau tidak, hanya semesta yang tahu.
Sampai akhirnya berlanjut dengan kamu mendengarkan keluh kesahku soal hidup.
Bagiku saat itu dunia sudah cukup bagiku.
Hujan. Musik favorit . Kamu.
Ingin rasanya ku hentikan waktu.

Lalu kamu bilang aku marah? Tidak, aku tak pernah marah.
Aku hanya kecewa, sedih dan terluka disaat yang sama kamu membuatku bahagia.
Terkadang kenyataan dan cerita mu terlalu menyakitkan perasaan untuk aku tahu.
Jadi saat aku memilih menepi, bukan berarti aku ingin pergi. 
Jika aku kesal dan emosi, bukan berarti aku tak ingin kamu ada.
Aku hanya terlalu kesal dengan perasaan ku yang kadang tak bisa diajak kompromi.
Aku hanya butuh waktu menyadari, butuh ruang mengobati.
Saat itulah aku butuh ruang sendiri. 

Tidak ada yang salah tentang ini, tentang perasaanku yang belum juga ingin pergi atau kamu yang tak henti-hentinya selalu mencari. 

Kalian layak berbahagia lebih dari siapapun didunia. 





Monday, March 2, 2020

Hai...

Kamu lagi.
Masih.
Sama.

Berulang.
Rasa.

Kita.
Dekat.

Aku.
Takut.

Patah.

Entah.
Bagaimana.

Jika.
Aku.
Terlalu.


Counter