Monday, May 31, 2021

Tentang Sebuah Kota

Ada sebuah kerinduan yang tidak bisa dijelaskan, 
rasanya hanya ingin pergi dari rutinitas senin jumat lalu lupa sejenak.
Lalu sebuah ajakan dadakan yang tanpa rencana terdengar cukup menarik, jawabanku singkat. Iya.
Dulu sempat bergumam sendiri, jika pandemi selesai ingin kembali lagi kesana, 
sebuah kota yang katanya penuh dengan kerinduan. 
Lalu aku kembali mengingat banyak kenangan yang sempat tercipta. 
Iyaa, kota ini selalu punya cerita.
Tidak punya rencana apapun, hanya ingin terbang setelah sekian lama bertahan dalam sebuah keharusan berdiam.
Untuk waktu yang singkat, di sinilah aku sekarang menghabiskan hari terakhir ku berada. 
Kota yang katanya punya mantra istimewa untuk membawamu kembali kesana.
Sepertinya mantra itu bekerja.

Tidak punya banyak rencana, hanya berusaha menikmati hidup sekarang.
Menghirup udara selain Jakarta dan sekitarnya, bukankah harap itu tak ketinggian?
Pengalaman membuatku belajar, untuk menaruh harapan pada ekspektasi terendah.
Namun tetap saja ada ekspektasi yang terkadang tidak bisa terelakkan,
tapi setidaknya memiliki kesadaran untuk bisa menahan ekspektasi rasanya membuatku cukup waras.

Namanya muncul pertama kali dalam ingatan saat aku mendarat.
Ada keraguan apakah harus menghubungi nya atau tidak.
Berfikir cukup lama untuk sekedar mengabari kalau aku ada disini.
Berharap kamu ingin sekedar menemui.
Ditengah kesibukanmu ternyata kamu meluangkan waktu untuk menemuiku, terimakasih untuk itu.
Kita tidak selalu bicara, hanya sesekali menyapa kemudian hilang.
Entah mengapa, beberapa kali aku kembali kesini, namamu jadi yang selalu aku ingat.
Lagi lagi aku berbicara pada diriku sendiri untuk menghilangkan eskpektasi.

Kita punya kehidupan masing-masing.
Besok aku akan kembali ke kota ku dan kamu tetap disini seperti sebelumnya.
Seketika ada sedikit harap yang aku tidak tahu itu apa.
Lalu aku menyadarkan diriku sejenak.
If there's nothing you need to worry about.

Oh, lalu aku sedikit berandai, 
Jika saja aku punya kesempatan untuk bisa menetap.
Beberapa harap muncul, lalu aku kembali mengingatkan aku.
Hiduplah untuk hari ini, tanpa perlu terlalu banyak ekpektasi.

Dan hingga sore ini, kamu yang aku kira akan hadir untuk sekedar mengisi hari-hari terakhirku ada di kotamu ternyata tak lagi ada kabar.
Lalu aku menyimpulkan, kamu sibuk dengan kehidupan mu dan esok pun aku akan kembali ke kota ku.
Kita akan mejalani hidup masing-masing yang tak pernah kita tahu.

Ada sedikit harapku untukmu yang akan kusisipkan lewat frekuensi ini.
Semoga semua makhluk berbahagia. Termasuk kamu.

Sampai jumpa lagi nanti, entah perlu atau tidak  mengabarimu lagi jika nanti aku kembali.
Sampai bertemu lagi lain kali. Mungkin :)

Monday, May 17, 2021

Patah hati lagi?

Hi, apa kabar kamuu? 

Rasanya aku mulai terbiasa tidak lagi berbagi kisah.   
Hatiku mulai tenang, walau terkadang sedikit memori terlintas membuatku ingat.
Iyaa, jika kamu ingin tahu kabarku pasti kamu akan mencari. Tapi itu tidak akan pernah terjadi.
Sedikit patah hati saat aku dengar kamu sibuk mencari alasan bertemu sesorang hanya untuk mendengar kabar. 
Yang pasti bukan mencariku.
Patah hati lagi? masih, walau sedikit.

Kadang ada sedikit harap, ingin kamu mencariku. 
Kemudian aku akan menertawakan diriku sendiri untuk pemikiran bodoh itu.

Membuat batasan denganmu membuatku jadi lebih baik, 
aku bisa makan dengan tenang sekarang. 
Obat magh ku sudah lama tak aku minum. Sebuah kemajuan. 
terkahir kita bertemu, rasanya lambungku berteriak meronta kesakitan.
Maaf ya lambung, dua tahun aku menyakitimu dengan kebodohanku.

Hari ini hanya ingin menyapamu lewat udara, lewat frekuensi, algoritama atau ruang yang memisahkan.
Dan lewat tulisan ini yang tak akan pernah sampai.
Setidaknya hatiku tenang bisa mengungkapkan, 
aku bisa tetap berbicara menyampaikan padamu banyak hal,
walaupun hanya searah.
Bagiku saat ini, mencintai diri sendiri menjadi hal penting. 
Dan berada di dekatmu hanya untuk menyiksa diri, itu bukan bagian dari cinta. 



Counter