Sunday, December 6, 2020

Sebuah Proses

Aku masih bertanya pada diriku sendiri.
Bagaimana caranya merelakan perasaan. 
Jutaan teori rasanya sudah banyak aku baca.
Nasihat-nasihat bijak, rasanya sudah hafal di luar kepala.
Tapi kita semua tau satu hal.
Kenyataan ini tak semudah kata-kata.

Aku ingin sekali berdamai dengan perasaanku.
Menerima perasaan yang masih saja membuatku gelisah setiap waktu.
Ribuan kali aku berdiskusi dengan diriku sendiri,
Mencoba memahami, menyadari dan menerima apa yang benar-benar terjadi.
Tapi rasanya hati punya cara untuk bekerja.
Sekalipun aku menyuruhnya berhenti untuk merasa.
Tetap saja ia punya caranya sendiri untuk bicara.

Aku masih berusaha untuk belajar menerima.
Mencoba untuk bisa merelakan apa-apa yang memang tak seharusnya di genggam.
Menulis adalah sebuah cara aku berkomunikasi dengan diriku sendiri.
Dengan ini aku berharap, setidaknya aku tahu aku sedang berusaha.
Semua butuh proses yang tidak selalu sederhana.
Dan izinkan aku untuk perlahan mencerna semua yang ada.

Kadang mereka bilang, jangan terlalu cinta. 
Bagaimana kamu bisa mencegah sesuatu yang bahkan tak bisa kamu lihat?


Sebuah Saran

Belakangan aku ragu untuk mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup.
Entah mengapa nama mu adalah yang pertama muncul dalam benak untuk aku bertanya soal ini.
Aku memang telah lama membatasi jarak antara kita.
Aku merasa perlu membangun batasan, walau nyatanya hingga kini, sekuat apapun aku membangun nya, rasanya masih sama.

Aku kesampingkan itu semua untuk berani lagi bicara.
Kita bicara lewat rangkaian gelombang udara, hanya itu yang berani aku lakukan.
Saat kita bicara, rasanya semua masih sama. 
Seperti aku dan kamu tak lagi punya batasan.
Seperti aku yang selalu nampak ceria dihadap mu dan kamu yang selalu melebih-lebihkan sesuatu.
Dengan mudah, aku menerima saranmu tanpa pikir panjang.
Entah mengapa aku selalu percaya akan dirimu, hingga sekarang.
Tak ada yang membuat pandangan ku berubah akan kamu. 
Kecuali satu. Perasaan mu. 
Entah mengapa aku ingin sesekali percaya kalau kamu membenciku.
Entah mengapa. Mungkin aku terlalu ingin menyakiti perasaanku sendiri, hingga memaksa ku berhenti menaruh hati.

Dengan mudah kamu meyakinkan aku mengambil sebuah keputusan. 
Aku merasa kamu tetap memikirkan hal terbaik yang bisa kamu lakukan.
Aku senang mendengarnya.

Terimakasih.


Counter