Monday, June 15, 2020

Tatap Muka.

Setiap hari kita saling menyapa lewat udara.
Aku lupa kapan terakhir kita bertatap muka, rasanya sudah lama.
Tapi entah mengapa aku merasa kian dekat.
Dan kemarin, setelah sekian lama, kita mencoba hadir.
Jiwa dan raga.

Perasaan itu kembali muncul, ragu yang kian lama terlihat semu.
Hati yang entah kapan akan luruh.
Perasaan yang mencoba untuk pasrah.
Aku sadar semua ini tidak akan mudah.
Menjadi seseorang yang harus terus berpura-pura mati rasa.
Aku yang terlalu pintar menyembunyikannya.
Atau kamu yang terlalu biasa dengan begitu banyak perasaan untuk diabaikan.
Kamu tidak salah.
Aku yang harusnya pergi selagi bisa.
Sekarang rasanya terlambat sudah.
Pergi sekarang, berarti rahasia ini harus terucap.
Hilang tanpa alasan, jelas bukan cara kita bersikap dewasa.
Aku merasa perlu menyiapkan diri untuk terluka.
Lagi-lagi hanyaa itu yang aku bisa
Sejujurnya ingin pergi tapi entah mengapa, hati ini punya cara untuk kembali.



Friday, June 5, 2020

Masih sama

Lagi-lagi kita sama. 
Jadwal minggu ini kita bersama.
Bersama-sama berkegiatan diluar rumah.
Aku disini, kamu sana, seperti biasa.
Seperti yang kamu tahu, jadwalku sudah lama normal.
Namun kamu baru saja mulai kembali beraktivitas,
yang biasa berseling hari, minggu ini ternyata jadwalmu penuh.
Sama sepertiku.
Sesekali kita saling bertukar cerita tentang hari ini.
Entah keluh kesah atau apapun yang terlintas.
Tidak butuh solusi, hanya butuh teman untuk berbagi.

Entahlah, kadang aku bingung sendiri.
Sebenanya apa yang kita cari?
Mungkin buatmu ini biasa.
Mudah bagimu membuat orang lain merasa nyaman.
Terlalu nyaman.
Tapi tenang, aku tahu itu sedari awal. 
Hatiku sudah kupersiapkan untuk terluka.
Karena pergi darimu rasanya aku tak bisa.
Berulang ku mencoba gagal sudah.
Jadi jangan kira aku tak berusaha melupa.
Ini bukan salah siapa-siapa.
Dari awal, aku tahu konsekuensinya.
Semua kemungkinan bisa terjadi.
Entah aku siap atau tidak, aku hanya perlu menghadapinya.
Sekalipun itu tidak menyenangkan, tapi hati kecilku bilang, semoga tidak ya.


Monday, June 1, 2020

Hari ini?

Hai, apa kabar kamu pagi ini?
Setelah semalam kamu bingung kenapa kamu merasa perlu ingin tidur.
Kadang aku sengaja terjaga, hanya untuk menunggu pesanmu yang seringkali kamu kirim lewat tengah malam.
Entah kamu sekedar memastikan masih ada yang belum terlelap, atau memang kamu butuh teman untuk bicara.
Padahal jika kamu sadar, aku tak pernah kemana-mana. 
Kapanpun, kamu bisa ajak aku bicara dan aku akan senang mendengarnya.

Kemarin aku sempat ingin menghilang lagi untuk kesekian kali, seperti aku butuh ruang. 
Jujur saja aku lelah, berada terus didekatmu membuatku semakin takut.
Aku takut perasaanku tumbuh lebih dalam lagi, 
yang artinya aku harus siap jauh lebih patah hati suatu hari nanti.

Kendatipun begitu banyak persamaan yang kita miliki. 
Dunia kita kadang nampak jelas berbeda.
Aku jelas tau itu dari awal, aku bisa membacanya.
Tapi entah bagaimana, semesta membuat kita kian dekat.
Aku jelas berbohong kalau aku bilang tak punya rasa.
Iyaa, hanya itu satu kebohonganku padamu yang ku punya.
Aku harap kamu tidak keberatan.
Aku hanya tidak ingin merusak segalanya.
Tidak masalah jika aku harus terluka, nanti juga akan sembuh sendirinya.
Tapi kadang aku tak yakin jika kita harus tetap begini.
Berbagi cerita yang tak biasa.
Membuka diri tanpa merasa perlu ada yang ditutupi.
Apa ini biasa saja?

Buatku tentu bukan hal biasa.
Kamu adalah satu dari tujuh milyar manusia di dunia.
Aku paling pemilih soal siapa yang aku ijinkan masuk ke duniaku.
Kamu? jelas aku tak keberatan sama sekali.
Entah apa arti aku buatmu, kadang aku merasa tak sejauh itu.

Iya aku tahu. 
Kamu punya masa lalu yang terlalu indah untuk terlupa.
Mungkin terlampau sempurna hingga hatimu tak ingin bergerak dari sana.
Tidak ada yang salah dengan itu. 
Kamu hanya butuh waktu.

Dan entah kapan sampai kamu akan menyadari.
Mungkin aku juga tak akan selama nya disini.
Duniaku tak hanya hanya berputar untukmu seorang diri.
Tapi satu hal yang perlu kamu tahu. 
Aku merasa beruntung pernah mengenalmu saaat ini semoga hingga nanti.


Counter