Wednesday, June 27, 2018

Saya Bercerita

Menulis menjadi bagian dari saya.
Sebagai seorang yang tidak suka bercerita macam-macam kepada siapapun (bahkan ke orang tua) 
menulis menjadi salah satu cara untuk mengeluarkan pemikiran yang tidak sempat diutarakan.
Tentunya setiap penulis punya inspirasi nya sendiri-sendiri.

Salah satu penulis favorite saya adalah Dee - Dewi Lestari.
Saya jatuh hati dengan sebuah karya Album Musik Dee yang berjudul Rectoverso.
Setiap kata benar-benar dikemas secara puitis, namun tidak terlalu terkesan menye-menye.
Banyak makna tersirat di dalamnya, namun semua pesannya ter sampaikan dengan indah, halus dan romantis yang membawa saya berada pada perasaan bahagia dan haru disaat yang sama.
Bisa dibilang saya sangat terinspirasi oleh Dee.

Kemudian, belum lama ini saya tau  kalau ternyata, Fiersa Besari adalah seorang penulis.
Sebelumnya saya tau ia adalah seorang musisi, namun  belakangan saya tahu ternyata tulisan nya telah membuat saya kembali jatuh hati.

Kemudian saya mulai membaca karya nya yang bertajuk "Garis Waktu" 
Saya tidak berhenti tersenyum-senyum sendiri saat membacanya, saya suka bagaimana Bung (panggilan akrab Fiersa) mengemas rangkaian cerita terpisah yang memiliki benang merah.
Dan kalimat yang digunakan nya buat saya cukup puitis, romantis dan terdengar indah, dan yang paling penting, selalu ada pesan moril dibalik semua cerita Bung, selalu ada pesan yang ter-sampaikan , selalu ada kata-kata yang membuat kita akan ingat, membuat kita ingin mendengar nya lagi dan lagi agar tidak melupa.

Tidak hanya tulisan, Bung juga punya berbagai project yang berhubungan dengan sastra.
Seperti komunitas pecandu buku dan Suar Aksara.
Yang cukup menarik ada Suar Aksara, dimana Bung beserta kawan nya Wira membacakan sebuah puisi di alam bebas. Buat saya itu sebuah karya yang sangat indah.  

...
Dan ...
Rasanya aku jatuh hati lagi. Kepada literasi dan puisi.
Kepada kamu yang menyukai dingin dan angin .
Yang menatap langit untuk waktu yang lama tanpa berpaling.
Yang melangkah jauh menuju satu puncak tertinggi.
Untuk sekedar bernapas lega dan sedikit hilang dari keramaian ini.

Dan..
Dengan cahaya yang tidak begitu terik
Gelap yang tetap membuatku melihat
Harum vanilla dan buah lemon
Serta secangkir teh dingin.
Ijin kan aku menulis tentang hidup, cinta, dunia, atau apa saja yang ada.
Dan tentang kamu. 
Yang mungkin suatu saat akan melupa dan berganti cerita, atau tetap disana dan kita bisa menulis bersama menyambung cerita.




Untuk Sebuah Roman


Seketika aku merasa semesta punya rencana soal aku dan kamu,
begitu harap nya malam itu.
….


Belum lama setelah aku tau kamu sangat mengagumi sebuah karya sastra yang banyak digilai oleh pecinta buku  .
Seorang penulis Roman yang cukup dikenal banyak orang hampir diseluruh dunia.
Tulisannya telah di terbitkan di berbagai belahan dunia dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Aku sangat penasaran pastinya.
Setelahnya aku coba mencari tahu, membaca berbagai sumber dan berusaha mendapatkan buku yang sempat kamu bicarakan itu.
Aku merasa putus asa saat beberapa informasi yang ada menyatakan kalau buku itu cukup langka dipasaran, kalaupun ada harga nya cukup fantastis untuk bisa dimiiliki.

Aku tertegun sesaat.
Antara merasa kesal, jika aku tak bisa tau tentang apa buku yang kamu bicarakan itu dan merasa malu karena baru mengetahuinya sekarang soal buku itu.

Sampai pada sebuat moment langka yeng mengharuskan aku pulang kembali ke rumah.
Semesta juga yang menuntunku untuk tidak sengaja membuka tirai lemari kamar.
Dan betapa kegetnya aku menemukan buku itu disana. Rapih tersimpan . Bagaimana bisa?
Tanyaku dalam benak.

Saat itu aku merasa jika semesta sedang merangkul aku dan kamu pada ketertarikan yang sama.
Mungkin kah?


Seperti beberapa kalimat puisi yang sempat kamu utarakan soal hujan.
Rasanya aku ingin katakan jika aku tahu semua puisi yang kamu bicarakan.

Aku rasanya ingin bilang padamu banyak hal tentang ketertarikan kita yang sama tentang sastra.
Betapa indahnya dunia jika kita ditakdirkan bersama…
atau aku bisa membuat sebuah Roman sastra yang bukan bercerita tentang mereka , tapi kita.





Thursday, June 21, 2018

Lebaran

Lebaran.

Sebuah hari yang ditunggu-tunggu semua orang di dunia, bagi mereka yang mempercayainya.

Buatku, ada makna yang tersimpan tanpa harus butuh publikasi besar-besaran .

Kita tidak punya ritual khusus untuk hari yang ditunggu-tunggu itu.

Tidak ada. Tidak.

Kita bahkan tidak saling bersalaman , karena maaf kita bukan sebuah bentuk formalitas.

Kita tidak saling menangisi kesalahan terdahulu, karena tidak ada kesalahan yang kita ingat berlarut-larut.

Kita tidak perlu meminta maaf dari siapapun atau apapun, karena kita telah memaafkan tanpa perlu diminta.

Kita bahkan tidak pernah menyimpan perasaan dendam apapun, karena kita telah melupa apa itu marah.

Kita tidak saling iri dengan kesuksesan satu sama lain, karena kita berbagi.

Kita tidak perlu bentuk simbolis atau sekedar formalitas apapun soal maaf.

Tidak. Tidak perlu.

Karena kita...... Keluarga.

Semua bahkan telah ter-maafkan sekalipun tidak ada hari lebaran.

Wednesday, June 13, 2018

Sedikit Rindu

Entah sejak kapan aku hampir lupa ..
Kamu tidak lagi muncul disana. Aku rindu.
Rindu hanya sekedar melihatmu hadir. Disana tanpa perlu kita berkata apa-apa.

Dan hari ini adalah hari terakhir sebelum sebuah peringatan salah satu hari raya umat beragama yang selalu ditunggu di seluruh dunia setiap tahun nya. Singkat cerita kita akan punya libur panjang. Yang artinya kesempatanku melihatmu semakin hilang sudah.
Aku hanya tau rumahmu disana di seberang pulau tempat kita berada. Hanya itu yang aku tau dari pembicaraan pertama kita, yang entah kapan lagi akan terulang. Setelahnya aku berharap akan ada banyak pertanyaan untukku, untukmu, tapi nyatanya tidak.

Hari ini juga aku berkesempatan pergi ke ruanganmu sejenak, ada harap saat aku berjalan kesana, semesta mengatur pertemuan sedikit saja untuk kita, agar bertegur sapa atau mengucap sedikit kata perpisahan sementara, namun tidak. Aku hanya melihatmu jauh dari sisi tempat ku berdiri, ada kamu disana walau dengan yang lain. Sisi belakang dirimu adalah satu satunya hal yang bisa kunikmati saat itu. Kamu ada.

Dan hari ini kita semua pulang.
Pulang kepada mereka yang dirindukan.
Pulang pada mereka yang ternyata jauh lebih merindukan kita
Pulang pada kebersamaan yang sempat hilang.
Pulang yang sementara memberi hadir sejenak .
Dan pulang yang nantinya akan kembali lagi pergi.

Aku kamu sama sama pulang.
Hanya saja masing masing kita pulang kerumah yang berbeda.

Ohh andai saja suatu hari nanti kita pulang ke tempat yang sama, betapa indah dunia.
Yaa itu mungkin hanya angan angan saja.
Bukankah tidak ada yang salah dengan sedikit berandai mesra?

Aku pulang kehujanan di tengah bising dan ramainya kendaraan darat.
Pulang ku tak sejauh kamu.
Aku tak butuh udara tak ber-oksigen di atas sana untuk membawaku pulang.
Cukup menapak di tanah tempat kita berpijak.
Berbeda dengamu.
Kamu butuh sedikit waktu lebih lama menuju pulang .
Kamu butuh bantuan udara untuk membawamu lebih cepat sampai.
Hati hati disana, semoga bahagiamu membawamu pulang dengan selamat.
Aku hanya bisa titipkan doa yang tak akan pernah kamu tau.
Tuhan, jagalah dia.
Untuk Ayah yang menunggnya pulang.
Untuk Ibu yang akan mendekapnya erat erat.

Biarkan aku merasa, karena hati ini tak ingin terlalu hampa.
Setidaknya jika kamu tak akan pernah tau rasa ini.
Aku punya banyak cerita dan tulisan tentangmu yang mungkin suatu saat bisa aku jadikan buku.
Dan saat waktu yang entah kapan itu tiba, aku akan tersenyum membaca perasaanku saat ini.
Karena buatku, menulis membebaskanku.

Seperti kamu yang aku tau suka dengan ketinggian.
Sebenarnya aku juga sama.
Karena terlalu ingin berada disana, aku bahkan pernah nekad berbohong untuk bisa berada disalah satu puncak pendakian, namun karena orang tua ku yang super sulit tak mengizinkan aku mencoba hal yang sangat ingin aku lakukan seumur hidup dengan terpaksa aku perlu mengarang sedikit cerita. Tapi mereka akhirnya tau juga, dan nyatanya aku pulang dengan selamat. Terimakasih semesta.
Aku berhasil menapaki salah satu puncak itu.
Kadang aku berfikir sendiri, mereka memberiku nama yang terinspirasi dari salah satu pegunungan, aku lantas tidak heran dari mana keinginan aku berada di ketinggian itu berasal. Namun mereka terlalu saayang , hingga kerap melarang.

Kembali lagi soal kamu.
Andai saja kamu mengajakku mendaki salah satu tempat favorit mu itu. Jelas aku akan dengan senang hati mengikutimu menapak jauh.
Dengan begitu kita bisa mengenal, mencari tau dan merunut waktu .
Lalu soal buku. Aku ingin bertukar puisi dengamu, sudah sedari dulu aku menulis puluhan rindu.
Rasanya kamu juga pandai menulis sebuah kalimat yang akan terdengar indah soal rindu .

Bagaimana jika kita duduk bersama, berdiskusi tentang apa saja? Aku ingin sekali berbincang panjang denganmu entah tentang buku, puisi atau apapun itu.
Rasanya akan ada banyak pertanyaan untukmu, atau sekedar aku ingin tau.

Jadi biarkanlah aku dengan rasaku .
Aku percaya hidup kita telah punya jalan - Nya masing- masing.
Akan ada cara bagaimana Tuhan mempertemukan dua anak manusia yang tadinya asing menjadi saling .
Saling jatuh cinta.
Saling memahami .
Saling menjaga satu sama lain.

Dan jika waktunnya tiba, semua pertanyaan akan terjawab sudah. Yang dibutuhkan hanya waktu.

Aku pernah patah hati.
Sebelum ini.
Kadang aku masih bertanya sendiri, apa aku sudah benar - benar melupa?
Atau sekedar merelakan?
Karena sepertinya hati tidaklah sembuh seketika saja.
Yang tadinya dipertahankan cukup lama, namun jika semesta punya rencana lain, nyatanya hilang sudah.

Aku masih berusaha merelakan, berusaha tidak terlalu sakit hati dan kini aku ingin berusaha jatuh hati. Walaupun aku tau, perkenalan kita hanya sebatas rindu .
Entah hanya aku atau kita yang sama-sama merindu.

Aku tidak pernah tau.

Counter