Wednesday, June 13, 2018

Sedikit Rindu

Entah sejak kapan aku hampir lupa ..
Kamu tidak lagi muncul disana. Aku rindu.
Rindu hanya sekedar melihatmu hadir. Disana tanpa perlu kita berkata apa-apa.

Dan hari ini adalah hari terakhir sebelum sebuah peringatan salah satu hari raya umat beragama yang selalu ditunggu di seluruh dunia setiap tahun nya. Singkat cerita kita akan punya libur panjang. Yang artinya kesempatanku melihatmu semakin hilang sudah.
Aku hanya tau rumahmu disana di seberang pulau tempat kita berada. Hanya itu yang aku tau dari pembicaraan pertama kita, yang entah kapan lagi akan terulang. Setelahnya aku berharap akan ada banyak pertanyaan untukku, untukmu, tapi nyatanya tidak.

Hari ini juga aku berkesempatan pergi ke ruanganmu sejenak, ada harap saat aku berjalan kesana, semesta mengatur pertemuan sedikit saja untuk kita, agar bertegur sapa atau mengucap sedikit kata perpisahan sementara, namun tidak. Aku hanya melihatmu jauh dari sisi tempat ku berdiri, ada kamu disana walau dengan yang lain. Sisi belakang dirimu adalah satu satunya hal yang bisa kunikmati saat itu. Kamu ada.

Dan hari ini kita semua pulang.
Pulang kepada mereka yang dirindukan.
Pulang pada mereka yang ternyata jauh lebih merindukan kita
Pulang pada kebersamaan yang sempat hilang.
Pulang yang sementara memberi hadir sejenak .
Dan pulang yang nantinya akan kembali lagi pergi.

Aku kamu sama sama pulang.
Hanya saja masing masing kita pulang kerumah yang berbeda.

Ohh andai saja suatu hari nanti kita pulang ke tempat yang sama, betapa indah dunia.
Yaa itu mungkin hanya angan angan saja.
Bukankah tidak ada yang salah dengan sedikit berandai mesra?

Aku pulang kehujanan di tengah bising dan ramainya kendaraan darat.
Pulang ku tak sejauh kamu.
Aku tak butuh udara tak ber-oksigen di atas sana untuk membawaku pulang.
Cukup menapak di tanah tempat kita berpijak.
Berbeda dengamu.
Kamu butuh sedikit waktu lebih lama menuju pulang .
Kamu butuh bantuan udara untuk membawamu lebih cepat sampai.
Hati hati disana, semoga bahagiamu membawamu pulang dengan selamat.
Aku hanya bisa titipkan doa yang tak akan pernah kamu tau.
Tuhan, jagalah dia.
Untuk Ayah yang menunggnya pulang.
Untuk Ibu yang akan mendekapnya erat erat.

Biarkan aku merasa, karena hati ini tak ingin terlalu hampa.
Setidaknya jika kamu tak akan pernah tau rasa ini.
Aku punya banyak cerita dan tulisan tentangmu yang mungkin suatu saat bisa aku jadikan buku.
Dan saat waktu yang entah kapan itu tiba, aku akan tersenyum membaca perasaanku saat ini.
Karena buatku, menulis membebaskanku.

Seperti kamu yang aku tau suka dengan ketinggian.
Sebenarnya aku juga sama.
Karena terlalu ingin berada disana, aku bahkan pernah nekad berbohong untuk bisa berada disalah satu puncak pendakian, namun karena orang tua ku yang super sulit tak mengizinkan aku mencoba hal yang sangat ingin aku lakukan seumur hidup dengan terpaksa aku perlu mengarang sedikit cerita. Tapi mereka akhirnya tau juga, dan nyatanya aku pulang dengan selamat. Terimakasih semesta.
Aku berhasil menapaki salah satu puncak itu.
Kadang aku berfikir sendiri, mereka memberiku nama yang terinspirasi dari salah satu pegunungan, aku lantas tidak heran dari mana keinginan aku berada di ketinggian itu berasal. Namun mereka terlalu saayang , hingga kerap melarang.

Kembali lagi soal kamu.
Andai saja kamu mengajakku mendaki salah satu tempat favorit mu itu. Jelas aku akan dengan senang hati mengikutimu menapak jauh.
Dengan begitu kita bisa mengenal, mencari tau dan merunut waktu .
Lalu soal buku. Aku ingin bertukar puisi dengamu, sudah sedari dulu aku menulis puluhan rindu.
Rasanya kamu juga pandai menulis sebuah kalimat yang akan terdengar indah soal rindu .

Bagaimana jika kita duduk bersama, berdiskusi tentang apa saja? Aku ingin sekali berbincang panjang denganmu entah tentang buku, puisi atau apapun itu.
Rasanya akan ada banyak pertanyaan untukmu, atau sekedar aku ingin tau.

Jadi biarkanlah aku dengan rasaku .
Aku percaya hidup kita telah punya jalan - Nya masing- masing.
Akan ada cara bagaimana Tuhan mempertemukan dua anak manusia yang tadinya asing menjadi saling .
Saling jatuh cinta.
Saling memahami .
Saling menjaga satu sama lain.

Dan jika waktunnya tiba, semua pertanyaan akan terjawab sudah. Yang dibutuhkan hanya waktu.

Aku pernah patah hati.
Sebelum ini.
Kadang aku masih bertanya sendiri, apa aku sudah benar - benar melupa?
Atau sekedar merelakan?
Karena sepertinya hati tidaklah sembuh seketika saja.
Yang tadinya dipertahankan cukup lama, namun jika semesta punya rencana lain, nyatanya hilang sudah.

Aku masih berusaha merelakan, berusaha tidak terlalu sakit hati dan kini aku ingin berusaha jatuh hati. Walaupun aku tau, perkenalan kita hanya sebatas rindu .
Entah hanya aku atau kita yang sama-sama merindu.

Aku tidak pernah tau.

No comments:

Post a Comment

Counter