Saturday, September 29, 2012

Aku - Kamu

Meyakinkan hati, merenungi diri..
Mencairkan yang beku. 
Memulai yang ada dengan harapan baru.
Hatinya mencari, hatiku telah jauh menepi.
Kini tiba saatnya untuk bersemii. 
Aku terjatuh untuk kembali lagi. 
Dan ini bukan hanya mimpi.
Hatinya berusaha meyakini.
 Ucapnya untuk bersama nanti.
Aku bukan sabar menunggu, tapi meyakini kamu.
Jangan tanya mengapa, ada jutaan alasan.
Tapi ini sebuah kejujuran kan?
aku dan kamu.

Kita mulai lagi?? apa yang dimulai memangnya? memang ada???

Pengakuan keduanya muncul begitu saja terlontar dalam canda tawa manis manja bahagia saat bersama. Entah apa yang terjadi kini tapi keduannya bahagia. Sedikit keresahan itu ada namun bersama, hilang sudah resah.

Harapku satu. Memulai semuanya dengan baik, bukan sekedar rasa ingin yang berlebih untuk sebuah kejenuhan sendiri, atau kerinduan dalam kebosaan sepi. Kalaunpun memutuskan bersama, bukan karena alasan itu, tapi karena kamu yang memang meyakini kita.
Kita yang sudah lama bersama dalam sebuah lingkran prespektif yang cukup komplikatif, yang entah bagaimana bermula hingga rasanya istilah "line of side" dalam kamus telekomunikasi kita tidaklah mungkin. Ada banyak interferensi yang terjadi. Namun kini titik terang itu hadir, entahlah aku bingung menerka-nerka lagi. Jadi kuputuskan untuk jatuh saja terbawa arus, membawa diri dari segala kemungkinan, menerimanya dan berserah. Yang terjadi nanti pasti yang terbaik kan?


Kita hadir bersama bukan tanpa alasan......

Monday, September 10, 2012

Pagi, Siang, Senja, Kita..

"iyaaa.. iyaaa.. iyaaaa.. tenang aja :) "

Jawaban itu terdengar cukup diplomatis untuk semua statement yang..... jujur saja kadang aku tidak mengerti banyak. Antara otak ini yang berfkir cukup lamban untuk mencerna semua maksud kamu yang aku rasa cukup "engga jelas" atau memang kamu yang engga bisa menyampaikan maksud dengan baik, atau mungkin saja aku yang tidak mengerti semua ini.
Untuk apa mencari masalah sekarang dan menimbang-nimbang waktu yang mungkin saja terjadi, atau perasaan yang mungkin berubah, nantinya waktu juga yang akan pisahkan atau mungkin mempertemukan kita. Bukan waktunya mencari masalah sekarang, aku akan lebih memilih diam, tersakiti kalo kamu tega, pergi kalau seandainya bisa. Tapi keadaan yang menghasruskan aku untuk mengahadapi kamu setiap harinya. 


Kamu tau ini bukan perkara mudah untukku......



Pagi kita apa masih ada?
Hari kita apa masih akan bersama?
Lalu senjaaaa, ia mungkin akan bertanya.. Kapann?

Kemarin, hari ini, esok dan lusa, mungkin saja kamu ada.
Tapi lusa mungkin lagi tak sama.
Kita pernah ada dalam pagi yang sama, siang ceria dan senja bahagia.
Lalu seketika esok hilang. Itu pernah.

Dan semua akan berpura-pura biasa hanya untuk membuat semua nyaman.
Tangis yang diselangi senyum bahaagia itu cuma kamuflase semata.
Karena kamu tidak perlu tau apa-apa.
Tuhan melihat, jiwa-jiwa indah disana untuk sebuah warna.
Sayang melewatkan tawa dan canda mereka dengan tangis.

Dan semua akan kembali, bahagia pada satu masa
Aku, kamu kita, mereka, tanpa perlu ragu kini melangkah
Tujuan itu ada, hanya waktu yang akan berikan jawaban.


Ternyata yang dikhawatirkan terambil kini kembali, memang bisa apa merebutnya kalau Tuhan bilang itu milikku :)

Tuesday, September 4, 2012

PERCAYA??

Setiap kalimatnya, entah apa punya cukup makna untuk bisa aku cerna...

MANIS. Terfikir sejenak saat merasa setiap kalimat yang kamu tuliskan. Tapi selanjutnya pertanyaan itu akan kembali muncul, entahlah, mungkin seperti terjebak dalam lingkaran yang cukup indah untuk dilepas. Terlalu sayang untuk pergi jauh, sebelum waktunya nanti kita benar-benar harus terpisahkan. Tidak ada jaminan apa-apa yang menjadikan alasan aku untuk tetap tinggal atau kamu yang akan menetapkan hati untuk sebuah pilihan. Bicarapun kita semaunya, semua makna tersirat. Aku akan menyiratkan banyak hal dalam setiap canda itu, lalu kamu mungkin akan mengabaikan banyak hal yang terkadang aku anggap penting, kemudian kita akan saling berasumsi masing-masing yang bahkan kadang terasa salah ataukah benar?

Aku tidak menetap dan tinggal tanpa sebuah alasan yang cukup berarti dalam hidup. Kamu tidak memutuskan untuk memilih apa yang kamu pikir hanya emosi. Dan kita tidak pernah tau apa yang kita jalani tanpa saling mengerti. 

Aku mungkin akan bertahan karena percaya untuk hal yang tidak bisa dijelaskan. Kamu mungkin saja pergi lagi tanpa pernah tau seberapa besar harapan itu. Dan kita mungkin hanya akan begini.

Aku mungkin saja bersabar menerima perih yang ada selama menunggu. Kamu mungkin juga terlalu asiik percaya diri untuk mendapatkan lebih. 

Atau kita saling meyakini tanpa pernah bicara pasti soal apa yang mungkin saja terjadi. Hatiku tau seperti hatimupun juga tau, hati tidak bisa melihat siapa yang ia pilih, ia hanya merasa apa yang ia rasa kemudian tanpa alasan apapun...........
Kita hanya perlu percaya...


Counter