Sunday, December 6, 2020

Sebuah Proses

Aku masih bertanya pada diriku sendiri.
Bagaimana caranya merelakan perasaan. 
Jutaan teori rasanya sudah banyak aku baca.
Nasihat-nasihat bijak, rasanya sudah hafal di luar kepala.
Tapi kita semua tau satu hal.
Kenyataan ini tak semudah kata-kata.

Aku ingin sekali berdamai dengan perasaanku.
Menerima perasaan yang masih saja membuatku gelisah setiap waktu.
Ribuan kali aku berdiskusi dengan diriku sendiri,
Mencoba memahami, menyadari dan menerima apa yang benar-benar terjadi.
Tapi rasanya hati punya cara untuk bekerja.
Sekalipun aku menyuruhnya berhenti untuk merasa.
Tetap saja ia punya caranya sendiri untuk bicara.

Aku masih berusaha untuk belajar menerima.
Mencoba untuk bisa merelakan apa-apa yang memang tak seharusnya di genggam.
Menulis adalah sebuah cara aku berkomunikasi dengan diriku sendiri.
Dengan ini aku berharap, setidaknya aku tahu aku sedang berusaha.
Semua butuh proses yang tidak selalu sederhana.
Dan izinkan aku untuk perlahan mencerna semua yang ada.

Kadang mereka bilang, jangan terlalu cinta. 
Bagaimana kamu bisa mencegah sesuatu yang bahkan tak bisa kamu lihat?


Sebuah Saran

Belakangan aku ragu untuk mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup.
Entah mengapa nama mu adalah yang pertama muncul dalam benak untuk aku bertanya soal ini.
Aku memang telah lama membatasi jarak antara kita.
Aku merasa perlu membangun batasan, walau nyatanya hingga kini, sekuat apapun aku membangun nya, rasanya masih sama.

Aku kesampingkan itu semua untuk berani lagi bicara.
Kita bicara lewat rangkaian gelombang udara, hanya itu yang berani aku lakukan.
Saat kita bicara, rasanya semua masih sama. 
Seperti aku dan kamu tak lagi punya batasan.
Seperti aku yang selalu nampak ceria dihadap mu dan kamu yang selalu melebih-lebihkan sesuatu.
Dengan mudah, aku menerima saranmu tanpa pikir panjang.
Entah mengapa aku selalu percaya akan dirimu, hingga sekarang.
Tak ada yang membuat pandangan ku berubah akan kamu. 
Kecuali satu. Perasaan mu. 
Entah mengapa aku ingin sesekali percaya kalau kamu membenciku.
Entah mengapa. Mungkin aku terlalu ingin menyakiti perasaanku sendiri, hingga memaksa ku berhenti menaruh hati.

Dengan mudah kamu meyakinkan aku mengambil sebuah keputusan. 
Aku merasa kamu tetap memikirkan hal terbaik yang bisa kamu lakukan.
Aku senang mendengarnya.

Terimakasih.


Saturday, November 7, 2020

Aku Salah

Jika saja aku boleh jujur, tidak ada satu hari pun aku tidak memikirkanmu sejak hari itu...

Lalu aku sadar, kamu memang tidak pernah merasa jika aku bagian penting dihidupmu. 
Kamu tidak pernah berusaha menjelaskan apapun, karena memang tidak ada yang perlu dijelaskan.
Semudah itu kamu merasa, aku tidak perlu lagi ada dalam bagian cerita hidupmu. 

Selama ini, aku merasa kamu telah menjadi bagian hidup perjalananku yang indah,
kita telah banyak berbagi cerita, waktu bersama.
Berbagi tawa canda bahagia, yang aku kira itu berarti banyak.
Untukku, kamu berharga lebih dari apa yang kamu kira. 
Namun, semua itu hanya perasaan sendiri ku saja. 

Ternyata perasaanku selama ini salah.

Bagimu, aku jelas tak punya makna.
Hanya penggalan cerita yang tak perlu di ingat, 
hanya nama yang tak perlu kamu catat.
Hanya cerita yang tak perlu kamu kenang.
Dan tak perlu waktu lama bagimu untuk menghapus semuanya.

Tak mengapa.
itu jelas hak dirimu, untuk memilih siapa yang penting dihidupmu,
yang jelas bukan aku.
Tapi aku jadi bisa belajar,
ternyata tak semua hal yang kita rasa penting untuk orang lain, akan dirasakan dengan sama.
Aku yang salah telah banyak menaruh harap.

Doaku yang terbaik untuk mu. 
Semoga kamu menemukan bahagia yang kamu cari. 
Saat ini, ataupun nanti.

......
Dan semoga tak ada hati yang perlu tersakiti lagi.



Saturday, September 19, 2020

"Bye"

Tidak seperti hari-hari yang lalu.
Harusnya hari itu menjadi malam yang aku tunggu.
Kita akan bertemu.
Namun...
Membayangkan bertemu denganmu saja rasanya perih.
Aku tak bisa lagi berpura-pura bahagia di hadapanmu.
Jika aku harus mengulang lagi masa-masa itu, rasanya aku tak sanggup.
Tidak untuk kali ini, detik ini.

Rasanya tidak perlu ku jelaskan lagi, jika perasaanku masih sama. 
Aku terlalu jatuh, hingga tak punya keberanian untuk melihatmu.
Aku terlalu merasa, hingga aku tak tahu lagi harus apa.
Dan aku terlalu jauh bagimu untuk bisa tetap ada.

Dari kejauhan kamu selalu nampak mempesona setiap waktu.
Sejenak dalam hati bergumam, kenapa harus kamu?
Tidak ada satu menit pertemuan kita.
Kamu mencoba biasa. 
Tapi hatiku rasanya tak karuan. 
Aku benar-benar tak tahu harus apa.
Aku benar-benar kehilangan keberanian.
Sekali lagi, aku benar-benar jatuh cinta dan patah hati disaat yang sama.
Hanya satu kata yang bisa terucap dariku saat itu.

Selamat tinggal.



 


Sunday, September 6, 2020

Rindu Bahagia

Ternyata selain kamu, ada hal yang jauh lebih aku rindu.
Seorang sahabat mengingatkan aku tentang sebuah memori kala itu.
Saat aku merasa sangat bahagia tertawa bersama tanpa ada beban.
Aku rindu masa-masa itu. 
Tak ada pikiran yang tak perlu. 
Hanya ada aku dan moment bersama menikmati hidup.
Sejenak lupa rasanya jatuh.
Semua penuh canda tawa bahagia bersama.
Dengan mereka semua yang membuat dunia lebih bermakna.
Ternyata aku pernah bahagia.
Menikmati hidup dengan apa yang kita punya.
Andai aku bisa kembali kesana dan mengulang cerita.
Bertahan lebih lama agar bisa tetap merasa.
Dunia ini indah jika kita mau menikmatinya.

Saturday, September 5, 2020

Sebelum Tengah Malam

Belum lewat tengah malam, tapi pikiran ku sudah kemana-mana.
Aku bertanya pada diriku sendiri, sampai kapan kamu akan terus ada dalam pikiran?
Iyaa, itu masalahku sendiri dan aku menerimanya.

Ingin rasanya kembali berbincang, soal apa saja. 
Sekedar memberitahu kita sedang apa.
Atau menuliskan pikiran dalam benak saat itu juga.
Tapi semua sudah tak bisa. 
Kita saling berjarak agar tidak perlu ada yang terluka. 

Lalu aku berandai, jika semua ini punya akhir yang berbeda.
Entahlah, dalam benak ini masih hanya ada satu nama yang terselip dalam doa.
Waktu terkadang membuatku bertanya-tanya.
Apa jadinya nanti kita?
Aku selalu butuh waktu lama untuk melupa. 
Salahku yang terlalu jauh menjatuhkan perasaan. 

Tapi aku tak punya pilihan lain.
Hatiku tidak memilih, ia tahu apa yang dia cari.
Hanya saja, kita belum menemukannya satu sama lain.
Mungkin tidak saat ini.

Aku tak percaya kebetulan,
Aku percaya semua hal kecil bahkan sudah dituliskan.
Seperti saat ini, saat aku kembali teringat lagi tentangmu.
Jangan tertawa jika aku bilang hampir setiap hari aku masih mengingatmu.
Berusaha melupa hanya terus membuatku ingat.
Berusaha menerima perasaan yang ada, tak semudah kata-kata.
Tapi aku bertahan.
Untuk terus melangkah kedepan.
Entah dengan cerita yang berbeda, atau apapun yang mungkin ada.


Hatiku masih sama.
Dan malam ini seperti biasa ada sedikit rindu untukmu
Yang mungkin tak akan pernah kamu tahu,
kalau pesan ini kusampaikan untukmu.
 



Friday, September 4, 2020

Tak Perlu

Aku menyapa, memastikan semua baik-baik saja.
Tapi hanya diam darimu yang kudapat.
Acuh yang membuatmu terlihat sedingin kutub selatan.
Aku tahu semua memang tak akan pernah lagi sama. 
Aku telah menghancurkan semua yang pernah ada.
Sekedar untuk menyelamatkan hatiku 
yang sebentar lagi  mungkin hancur berantakan jika aku terus bertahan.

Lalu kamu bertanya. "Aku salah?"
jelas tidak jawabku lantang.

Aku tidak bisa memilih dengan siapa aku jatuh cinta,
Aku tidak pernah memilih kepada siapa rasa ini ada.

Sayangnya perasaan itu tidak selalu jatuh di tempat yang sama. 
Seperti aku yang kemudian jatuh sendirian.
Tak ada yang perlu disalahkan. 
Dan tak akan memaksa mu untuk sama.

Tak perlu.



Sunday, August 30, 2020

Jus Say it.

Hi, you! of course, it's you! who else?
its been a while since I told you the truth, then everything changes.
we made space, time to realize is it all worth it.
after all, isn' it?
All the time suffering from our days, time when everything slowly killed me with your kindness.
it's lovely but it's painful.
Then I decide to quit. 
I don't want to be around anymore. 
you're just to good to be true? or just to good for the one and only you? 
Everything is all about you. 
Then when I left, you don't feel nothing cause there's nothing on your inside.
all those years we spent together, knowing each other well was totally nothing for you.
well, I don't mean it has to be something for you, cause I know that at first, we don't.
But its totally like you don't even get it what did you really mean to me. 
So, all those times, like I am the one who feels like were closed.
Now, I don't even think that you thaught me as friends, maybe. 
like we never know each other.
it's up to you anyway. 
you really closed your heart for anyone. 


Saturday, August 15, 2020

Predicted!

Seminggu berselang, rasanya penuh dengan banyak kesadaran.
yang selama ini selalu di-tinggikan
yang selama ini dianggap berharga
yang selama ini dijadikan prioritas.
Ternyata mematahkan semua perasaan itu dengan hanya sekali saja.
Sedari awal sudah sadar akan hal itu semua,
namun tetap saja ada ekspektasi kecil disana.
Nyatanya semua telah dihancurkan oleh acuh yang luar biasa.
Padahal baru kemarin rasanya banyak hal tercurah.
Ternyata kamu lebih dingin dari siapapun didunia.
Lebih acuh dari semua yang bisa kubayangkan
Kecewa dan tersadar disaat yang sama.
Mengenalmu menjadi bagian hal yang benar-benar membuatku belajar.
Kalau nyatanya semua hal yang terlihat indah dan baik diluar sana
bisa jadi menyimpan ketidakpedulian yang luar biasa.
Lantas kamu bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Tanpa pernah peduli sedikitpun untuk apa yang kurasa.
 
Kamu tidak salah.
Aku saja yang terlalu berlebihan melihat ini semua.
Menganggapmu terlalu berharga hingga aku lupa,
kalau aku bukan siapa-siapa.
 
 

Saturday, August 8, 2020

Tidak baik-baik saja

Entah kegilaan macam apa yang merasuki ku malam itu.
Mungkin aku terlalu lelah dengan semua ini.
Detik itu kuputuskan untuk mengatakan semua.
Semua yang telah lama kupendam sekian tahun lamanya.
Yang ku sembunyikan dibalik senyum tawa bahagia.
Ternyata aku pandai sekali berpura-pura.
Bahkan kamu tak pernah sadar.
Dibalik semua tawa yang aku tunjukkan,
ada hati yang diam-diam terluka dalam.
Sedari awal aku sudah tahu kalau aku bukan pilihan. 
Kehadiranku hanya pelengkap, untuk hidupmu yang punya beragam cerita.

Aku sudah mengambil keputusan, 
untuk jujur dan berterus terang.
Entah ini benar atau salah. 
Hatiku hanya tak ingin lagi terluka.
Rasanya terlalu melelahkan, hingga lambungku meronta-ronta kesakitan.

Sehari berselang, mendadak hatiku sendu.
Rindu menyapa dirimu seperti dahulu.
Ada sedikit harapan kecil dihatiku.
Apa mungkin kamu akan mencariku?
Harap yang hanya sekedar harap.
Aku tahu kamu pasti lebih memilih memberiku ruang .
Membiarkanku sendiri mungkin jadi pilihan yang tepat.

Aku mungkin hanya butuh waktu untuk terbiasa.
Butuh ruang untuk sedikit bisa bernapas.
Butuh jeda untuk bisa merasa.
Mengakui kalau keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Tidak perlu merasa selalu kuat.
Hidup kan tak hanya soal dirimu saja.
Aku terima sakit ini  sebagai bagian dari pelajaran kehidupan.


Monday, June 15, 2020

Tatap Muka.

Setiap hari kita saling menyapa lewat udara.
Aku lupa kapan terakhir kita bertatap muka, rasanya sudah lama.
Tapi entah mengapa aku merasa kian dekat.
Dan kemarin, setelah sekian lama, kita mencoba hadir.
Jiwa dan raga.

Perasaan itu kembali muncul, ragu yang kian lama terlihat semu.
Hati yang entah kapan akan luruh.
Perasaan yang mencoba untuk pasrah.
Aku sadar semua ini tidak akan mudah.
Menjadi seseorang yang harus terus berpura-pura mati rasa.
Aku yang terlalu pintar menyembunyikannya.
Atau kamu yang terlalu biasa dengan begitu banyak perasaan untuk diabaikan.
Kamu tidak salah.
Aku yang harusnya pergi selagi bisa.
Sekarang rasanya terlambat sudah.
Pergi sekarang, berarti rahasia ini harus terucap.
Hilang tanpa alasan, jelas bukan cara kita bersikap dewasa.
Aku merasa perlu menyiapkan diri untuk terluka.
Lagi-lagi hanyaa itu yang aku bisa
Sejujurnya ingin pergi tapi entah mengapa, hati ini punya cara untuk kembali.



Friday, June 5, 2020

Masih sama

Lagi-lagi kita sama. 
Jadwal minggu ini kita bersama.
Bersama-sama berkegiatan diluar rumah.
Aku disini, kamu sana, seperti biasa.
Seperti yang kamu tahu, jadwalku sudah lama normal.
Namun kamu baru saja mulai kembali beraktivitas,
yang biasa berseling hari, minggu ini ternyata jadwalmu penuh.
Sama sepertiku.
Sesekali kita saling bertukar cerita tentang hari ini.
Entah keluh kesah atau apapun yang terlintas.
Tidak butuh solusi, hanya butuh teman untuk berbagi.

Entahlah, kadang aku bingung sendiri.
Sebenanya apa yang kita cari?
Mungkin buatmu ini biasa.
Mudah bagimu membuat orang lain merasa nyaman.
Terlalu nyaman.
Tapi tenang, aku tahu itu sedari awal. 
Hatiku sudah kupersiapkan untuk terluka.
Karena pergi darimu rasanya aku tak bisa.
Berulang ku mencoba gagal sudah.
Jadi jangan kira aku tak berusaha melupa.
Ini bukan salah siapa-siapa.
Dari awal, aku tahu konsekuensinya.
Semua kemungkinan bisa terjadi.
Entah aku siap atau tidak, aku hanya perlu menghadapinya.
Sekalipun itu tidak menyenangkan, tapi hati kecilku bilang, semoga tidak ya.


Monday, June 1, 2020

Hari ini?

Hai, apa kabar kamu pagi ini?
Setelah semalam kamu bingung kenapa kamu merasa perlu ingin tidur.
Kadang aku sengaja terjaga, hanya untuk menunggu pesanmu yang seringkali kamu kirim lewat tengah malam.
Entah kamu sekedar memastikan masih ada yang belum terlelap, atau memang kamu butuh teman untuk bicara.
Padahal jika kamu sadar, aku tak pernah kemana-mana. 
Kapanpun, kamu bisa ajak aku bicara dan aku akan senang mendengarnya.

Kemarin aku sempat ingin menghilang lagi untuk kesekian kali, seperti aku butuh ruang. 
Jujur saja aku lelah, berada terus didekatmu membuatku semakin takut.
Aku takut perasaanku tumbuh lebih dalam lagi, 
yang artinya aku harus siap jauh lebih patah hati suatu hari nanti.

Kendatipun begitu banyak persamaan yang kita miliki. 
Dunia kita kadang nampak jelas berbeda.
Aku jelas tau itu dari awal, aku bisa membacanya.
Tapi entah bagaimana, semesta membuat kita kian dekat.
Aku jelas berbohong kalau aku bilang tak punya rasa.
Iyaa, hanya itu satu kebohonganku padamu yang ku punya.
Aku harap kamu tidak keberatan.
Aku hanya tidak ingin merusak segalanya.
Tidak masalah jika aku harus terluka, nanti juga akan sembuh sendirinya.
Tapi kadang aku tak yakin jika kita harus tetap begini.
Berbagi cerita yang tak biasa.
Membuka diri tanpa merasa perlu ada yang ditutupi.
Apa ini biasa saja?

Buatku tentu bukan hal biasa.
Kamu adalah satu dari tujuh milyar manusia di dunia.
Aku paling pemilih soal siapa yang aku ijinkan masuk ke duniaku.
Kamu? jelas aku tak keberatan sama sekali.
Entah apa arti aku buatmu, kadang aku merasa tak sejauh itu.

Iya aku tahu. 
Kamu punya masa lalu yang terlalu indah untuk terlupa.
Mungkin terlampau sempurna hingga hatimu tak ingin bergerak dari sana.
Tidak ada yang salah dengan itu. 
Kamu hanya butuh waktu.

Dan entah kapan sampai kamu akan menyadari.
Mungkin aku juga tak akan selama nya disini.
Duniaku tak hanya hanya berputar untukmu seorang diri.
Tapi satu hal yang perlu kamu tahu. 
Aku merasa beruntung pernah mengenalmu saaat ini semoga hingga nanti.


Wednesday, May 13, 2020

Sampai kapan?

Langit merah jambu, tersenyum sedikit sendu.
Entah ragu atau ingin tahu.
Hatiku masih padamu.
Sebuah abu-abu yang terkadang terlalu kelabu, biru atau ungu.
Yang ku nanti setiap saat menyapa hari.
Dengan warna-warni cahayamu sendiri.
Sering kali kau buat bahagia. 
Namun tak dipungkiri, rasa yang berbeda kadang membuat hati merana.
Berkali ingin hilang, namun tertahan ombak yang membawa kembali pulang.
Berkali ingin pergi, namun tak pernah ingin sepi.
Rasanya ingin ku bilang , hati ini lelah.
Namun semua sirna sesaat.
Harapan tetap menjadi doa.
Dan sebuah tanya. 
Sampai kapan?

Semoga semua makhluk berbahagia.


Betapapun

Betapapun ku meminta jika memang bukan jalan-Nya, ya bukan.
Betapapun ku hilang, jika memang itu adanya, ya ada.
Betapapun ku ingin jika memang bukan, ya tidak
Betapapun menghindar, jika memang takdirnya, ya pasti.

Saturday, May 9, 2020

Luluh

Now Playing: Luluh - Maliq & d'essentials

"Haruskah aku pergi, salahkah bila ku disini tak peduli keadaannya"
"Katakan berapa dalam kau ingin aku masuk di kehidupanmu, katakan berapa jauh kau ingin aku ada dihari-harimu. Bagaimana pantasnya?"

Berkali- kali aku ingin pergi, namun tak kunjung jua.
Terkadang merasa ada yang salah dengan semua ini.
Setiap hari ada saja hal yang kita bicarakan.
Semakin lama aku merasa banyak sekali persaaman.
Entah kabar baik atau bukan, tapi itu semua membuatku nyaman.
Dan semua kenyamanan ini membuatku tidak aman.
Aku takut jatuh sendirian.
Sejenak aku katakan "Aku harus tau diri".

"Setiap kau tersenyum, membuatku melupakan dunia nyata tetap disini"

Bersama mu terlalu menyenangkan.
Membuat aku lupa kalau semua ini mungkin tak selamanya.
Entah kapan akan terjadi, dunia yang nyata harus dihadapi.
Sudah cukup kuatkah saat hal itu terjadi?
Lagi-lagi seakan aku tak peduli.
Aku kembali lagi.

"Tak pernah semudah itu aku mengerti apa yang kita jalani. Meski akhirnya semudah itu hatiku luluh kembali kepelukanmu"

Setiap usahaku ingin pergi. 
Ada saja hal yang membuatku luluh kembali.
Seperti harus berpikir seribu kali untuk benar-benar pergi.
Entahlah, apa itu keputusan terbaik?
Yang aku tahu, aku tidak baik-baik saja disini.
Ada hati yang mungkin saja tersakiti tanpa pernah kamu sadari.

"Apalah yang diharapkan, bila tak ada tujuan. Mungkin hanya kesenangan yang membuat kita terus bertahan"


Monday, May 4, 2020

Sebuah risiko bertahan

Tidak sedang baik-baik saja. Tidak
.....
Sampai kapan kamu sadar, kalau terkadang kamu menyakiti perasaan.
Seperti sore itu, seperti biasa kamu akan bercerita soal apa saja.
Aku senang mendengarnya. 
Kalau boleh, aku ingin mendengar kamu seharian bercerita .
Tentu aku tak akan merasa bosan.
Lalu seketika, cerita darimu membuatku berhenti sejenak.
Raut muka ku mendadak berubah.
Jantungku berdetak tidak normal.
Tubuhku lemas seketika.
Lagi-lagi kamu membuatku hancur seketika.
Kamu hanya membuat sebuah pernyataan klarifikasi.
Seolah tak ada yang perlu dirahasiakan.
Sejujurnya aku tak butuh klarifikasi apapun antara kamu dan dirinya.
Kendatipun memang ada yang terjalin antara kalian, tidak ada yang salah.
Aku yang memilih bertahan disini.
Aku paham resiko yang kuhadapai.
Hanya saja aku tak bisa menghindari kalau rasa sakit ini kerap saja terjadi.
Tak  akan aku pungkiri. Ternyata rasa itu perih.

Monday, April 27, 2020

Satu sisi

Ada hal yang harus aku pahami
Tak semua harap yang tersimpan dihati,
harus menjadi nyata untukku sendiri.
Seperti menemukan cerminan diri
Dalam refleksi yang jauh lebih baik
Lantas apakah langsung berasumsi yang terbaik?

Tak semua yang aku kira sama
menjadi sama bagi orang lain.
Sudut pandang yang membuatnya terlihatnya nyata.
Tolong bantu aku sekali ini saja
Buatlah aku mengerti sejenak soal rasa.
Berasumsi dengan pikiran sendiri rasanya melelahkan.
Seperti pertarungan yang tak tak tahu berlawan siapa.
Tidak pernah menang, namun tak kunjung juga mendapatkan jawaban.
Begitulah yang selalu ada dalam benak.

Menyadari kapasitas diri menjadi hal yang bisa dilakukan.
Aku tak berani menguak lebih dalam 
mencari tanya yang selama ini tanpa jawab
atau merelai pertarungan tanpa lawan.





Sunday, April 26, 2020

Menjalani hari di kala pandemi

Saat ini dunia sedang tidak begitu ramah, pandemi Covid-19 membuat banyak hal yang tidak pernah kita duga terjadi.
Sebagian orang ada yang hanya dirumah saja, seperti anjuran pemerintah
Sebagian lagi masih harus tetap bekerja.
Sebagian pula kehilangan pekerjaannya.
Tapi ada juga yang menikmatinya karena  mendapat kesempatan rehat sejenak dari hiruk pikuk duni.

iyaaa, tidak semua orang punya dampak yang sama dalam menghadapi pandemi ini. 
Tapi kita semua sama-sama berjuang menghadapinya.
Walaupun perjuangan kita tidak sama. Tapi percayalah, semua ini pasti bisa kita lewati bersama.

Bagaimana dengan aku?
Masih harus bekerja dan terpaksa harus berjarak dengan rumah.
Tidak pulang  sementara waktu menjadi pilihan .

Tinggal sendiri dan jauh dari rumah menjadi suatu hal yang memang harus dijalani saat ini.
Terkadang merasa sendiri, tapi kali ini ada mereka yang selalu menemani dari jauh.
Aku ingin bilang terimakasih untuk tiga manusia yang saat ini hadir, yang membuat hariku tidak terlalu sepi.
Yang kadang membuatku tertawa juga menangis. HAHAAAHAA

Mereka yang tak perlu kusebut namanya.
Manusia yang setiap hari hadir tanpa pernah diminta hadir.
Kita hadir karena perasan yang sama ingin ada untuk satu sama lain.
Bukan sebuah basa-basi, bukan sekedar ada. Lebih dari itu semua.

Sudah banyak kenangan manis bersama mereka, 
walau baru dua tahun kebelakang ini bersama-sama, 
namun rasanya cukup banyak pembelajaran hidup yang bisa aku ambil dari mereka semua.

Rasa terimakasih tak pernah cukup untuk aku katakan. 
Doa yang terdalam setulus-tulusnya untuk kalian.
Dimanapun berada, sampai kapanpun. 
Kalian telah menjadi bagian perjalanan untuk aku tumbuh.

Harapku satu ingin melihat kalian bahagia suatu saat nanti, 
dengan semau mimpi dan harapan yang kalian miliki.
Lalu saat kita ingat akan hari ini. 
Kita semua bisa tersenyum pernah punya cerita yang kelak tersimpan dalam memori.

Terimakasih yang tidak akan pernah habis untuk kalian.
Bahagia terus yaaa sampai kapanpun!!

You guys know how much you really mean to me :")



Friday, April 24, 2020

Dua Puluh Tiga April

Hai Kamu!

iyaaaa kamu, aku sekarang ingin bicara dengan kamu.
kita satu tubuh yang sama dan saling mengisi, saling bicara jika ingin menyendiri.
iyaa cuma kamu yang paling mengerti.

Hari ini kamu mengulang hari. 
Sama seperti biasanya, hanya saja beberapa manusia di Bumi percaya kalau ada hal yang special hari ini.
Semacam ritual tak tertulis di Bumi yang sedari dulu dipercayai.
Lalu bagaimana denganmu?
Entahlah, ada hal yang membuatmu enggan merasa berbeda hari ini.
Selain kamu menua didunia, angka dalam biodata dirimu harus berubah.
iyaa abaikan saja soal angka, itu hanya membuatmu ingin lupa.

Lalu mengapa kamu berbeda? 
Mengapa kamu tak ingin ada perayaan?

Karena kamu tahu, semua masih sama.
Bumi tempatmu berpijak, 
udara yang tiap hari kamu hirup,
waktu yang tetap berjalan tanpa harus diberi perhatian.

Kamu bahkan berusaha sekuat tenaga merahasiakan dari dunia.
Supaya semua orang lupa , lalu melewati hari ini dengan biasa-biasa saja.

Tapi ada yang berbeda hari ini.
Pagi ini kamu tersenyum melihat sebuah pesan dan beberapa panggilan telpon masuk yang tidak sempat kamu angkat.
Ternyata usahamu menyembunyikan hari ini dari dunia gagal sudah.

Kamu tidur seperti biasa, tidak berharap menunggu apapun yang kamu kira akan tiba.
Entah pesan singkat sederhana, atau apa saja-lah yang biasa dilakukan kebanyakan orang.
Tidak ada yang kamu tunggu. Tidur tenang menjadi pilihanmu malam itu.

Ternyata kamu salah.
Mereka yang selama ini dekat ternyata mencoba mengingat.
Sederhana, tapi buatmu mereka lebih dari sekedar manusia yang hadir di dunia.

Kondisi dunia saat ini membuat kita hanya bisa bertemu secara virtual.
Dan tepat pergantian hari ini, mereka berusaha menggapaimu untuk memberikan doa dan harapan baik.

Dan hari ini, kamu tersenyum menyadari.
Tak ada yang perlu dihindari, bahkan harimu sendiri.
Dan betapa menyenangkan saat manusia-manusia penting dalam hidupmu memberikan doa untukmu.

Terimakasih kalian, telah menjadi bagian dari perjalanan .
Walaupun hadir belum juga lama, 
tapi terlalu banyak makna hidup yang bisa kita pelajari.
Tetaplah disini untuk saling menemani.


Monday, April 13, 2020

Tadi Malam

Ada sedikit kesadaran malam itu, saat aku bercerita tentang apa-apa yang sudah berlalu.
Selesai. Begitu aku menyebutnya.

Seperti yang biasa aku kita lakukan, disetiap kesempatan.
Saling mendoakan adalah sebuah ungkapan rasa yang paling dalam yang bisa kita lakukan.
Mendoakan mu baik-baik saja, semoga segera dipertemukan, begitupun dengan aku.
Kita cukup mengenal baik, satu sama lain. Rasanya cukup yaa untuk tidak berharap terlalu jauh dengan semu ini.
Kita tidak akan selama nya begini, pada saatnya nanti kita akan berada di jalan hidup kita masing-masing.
Cerita yang sampai saat ini masih misteri.

Aku sendiri bertanya-tanya, sampai kapan semua ini?
Selesai dengan cerita lalu dan belum juga membuka lembaran baru.
Sekali lagi, yang bisa menjawab hanya waktu.

Sunday, April 12, 2020

Sendiri

Sendiri membuatku banyak berpikir tentang banyak hal.
Tentang bagaimana begitu banyak darimu yang bisa aku pelajari.
Keinginanku untuk menghilang rasanya harus aku singkirkan jauh jauh.
Jika aku memilih bertahan disini dengan perasaan sakit karena memiliki rasa ini,
harusnya semua itu terbayar dengan begitu banyak pelajaran hidup yang aku dapati.
Apakah ini masih termasuk toleransi hati?

Bukankah tidak ada pengorbanan yang sia-sia?
jadi kalau ada perasaan yang harus sedikit dikorbankan tak apa, semua akan terbayar.
Selama kita saling menghargai satu sama lain,
saling mendukung yang tidak pernah henti,
saling berbagi untuk semua hal baik
dan saling hadir mengisi satu sama lain. Bukankah itu cukup?

Tapi ada waktu yang tak akan cukup untuk bertahan selamanya .
Ia berjalan layaknya aku, kamu dan kita semua.
Dan aku selalu yakin, selalu ada kejutan indah didalamnya.
Entah denganmu atau bukan, tapi hatiku pernah merasa.

Terimakasih.

Saturday, April 11, 2020

Salah?

Kenapa lagi-lagi soal kamu?
Setiap jeda waktu kosong dipikiranku yang hadir tengtangmu.
Aku bertanya pada diri ku sendiri, kenapa?
Kenapa aku terus berpikir tentangmu, sementara aku rasa kamu tidak begitu.

Ada yang salah denganku.

BIngung

Aku mulai bingung menanggapi semua hal yang masih terjadi dengan perasaanku sendiri.
Lagi-lagi kamu membuatku berpikir.
Menyakiti perasaanku sendiri apakah sebuah toleransi?
Tidak kamu tidak pernah berusaha sekalipun menyakitiku.
Sekalipun tidak. Ba
Tapi kamu memberi banyak dampak  positif dihidupku,
memberi banyak pelajaran untuk makna hidup yang baru.


Lantas siapa yang salah soal rasa?
Aku tak meminta rasa ini hadir.
Bertahan disini dengan semua kebaikan tentangmu rasanya menyakitkan.
Kadang aku ingin pergi.
Agar rasa ini tak lagi tumbuh bersemi.

Kamu yang bilang, kalau seseorang tidak melihat perjuaganmu untuk seseorang, lebih baik sudahi saja.
Lalu aku ini apa?

Monday, March 30, 2020

Saling berbagi

Hai, kamu baik-baik saja. 
Aku juga.

Kamu masih saja sama. Mengagumkan.
Aku tidak tahu harus bilang apa lagi.
Kata-kata pujian rasanya sudah habis seiring kita menyapa.
Kita sedang tidak bertemu untuk waktu yang entah sampai kapan.
Tapi selalu menyempatkan waktu untuk mengirim pesan.
Berbagi cerita dan manfaat.
Denganmu semua terasa jauh punya makna
Kehidupan rasanya terlalu berharga saat kita berbagi pembelajaran. 
Tetaplah berbagi kebaikan.
Menebar cinta dengan cara beragam warna. 
Dunia butuh banyak manusia sepertimu . 
Yang tak henti membagi cerita, ilmu dan semua hal baik yang kamu punya. 
Karena setiap kita punya cara untuk menjadi manusia seutuhnya .

Saturday, March 28, 2020

#Dirumah aja ?

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi hari ini, esok dan nanti.
Seperti saat ini. Dunia sedang sakit.
Tak luput juga negara ini, yang berdampak akibat Covid-19.
Indonesia menghimbau untuk sosial distancing. Jaga jarak.
Terdengar sederhana, tapi menjadi salah satu cara memutus rantai penyebaran.
Tentu saja tagar #dirumahaja makin hari kian gencar.
Sebuah kampanye positif yang patut di apresiasi untuk membantu negara ini pulih.
Namun untuk sebagian orang #dirumahaja bukanlah sebuah pilihan.
Kehidupan masih harus berjalan, roda perekonomian tetap harus berputar.
Bukan tidak ingin membantu pemerintah dengan tetap di rumah.
Tapi ada keluarga yang juga mesti bertahan, berjuang untuk esok dengan harapan semua akan membaik segera.
Kita tidak pernah tahu sampai kapan ini semua akan berakhir.
Setiap saat melihat berita, menghitung jumlah angka kematian.
Rasanya dunia sedang tak begitu ramah.
Tidak pernah ada yang berharap ini semua.
Kita hanya ingin semua kembali seperti sedia kala.
Kembali bertemu orang-orang tersayang.

Wednesday, March 25, 2020

Bertanya.

Ada rasa yang sedikit aneh saat tidak melihatmu ada di notifikasi.
oh yaaa, barang kali rindu yang selalu saja aku pungkiri.
Lalu kembali melihatmu di lini masa.
Lagu-lagu mu mengingatkan kepadaku,
betapa banyak kesamaan yang kita miliki.
Entah perasaanku saja atau kamupun menyadari.
Aku rasa kamu tahu.
Bukan waktu yang tepat saat ini.
jadi jangan sampai ke-egoisan ini menghancurkan apa yang sudah ada.
Waktu akan menjawab, cepat atau lambat.

Lalu terbesit sesuatu.
Mengapa kamu tidak dengan-nya saja?
Dia mungkin membutuhkanmu sebagai pelengkap hidup dalam waktu dekat.
Kalian berdua juga dekat, jadi jangan dipungkiri keadaannya.
Aku hanya ingin tahu, apa yang kamu rasa padanya.
Jika perih yang perlu ku terima, tak apa.
Semua akan baik saja.
Semua luka hanya butuh waktu untuk sembuh.
Hatiku pun begitu.

Tuesday, March 24, 2020

Kembali mencoba biasa ditengah rasa yang sedari awal tak biasa.
Sudah berulang kali, bukan yang pertama.
Berusaha menyemangati hati yang dibuatnya tak karuan.
Kadang bahagia, nelangsa sampai kadang ingin mati rasa saja.
Pikirnya semua ini kan lewat begitu saja.
Sembari bersama, membagi kisah walau kadang tak tahan.

Ada banyak doa di panjatkan, dengan sedikit harap.
Kadang juga ingin pergi menghilang.
Menutup mata dan telinga agar tak tahu apa-apa.
Ingin lari tapi tak mungkin.
Ingin hilang tapi hati kecil ingin selalu hadir.

Begitu saja berulang lagi.
Lelah yang entah kapan berujung indah.
lagi lagi satu kata. Yasudah.



Sunday, March 22, 2020

Penggalan Rasa.

Entah jiwa yang enggan berseru. 
Hati yang terlampau rapuh. 
Rasa yang menggebu-gebu.
Atau jarak yang membuat kita jauh.
Waktu yang aku tahu akan menjawab.
Rasa yang terlalu lama bersemayam.
Harap yang tak kunjung datang. 
Dan kamu yang terlalu lama berdiam. 

Pergilah sejenak. 

Friday, March 20, 2020

Menyapamu.

Haii, aku ingin kembali menyapa mu dari jauh, mendoakan yang terbaik dan mendukung mu selalu selama aku mampu. 

Aku tahu, mungkin aku tak terlalu berarti lebih untuk mu, kamu terbiasa dekat dengan banyak orang, terbiasa mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Lalu jika sekarang kita dekat, aku tahu mungkin tak ada yg istimewa.

Tapi untukku, kamu lebih dari sekedar ada. Belum pernah sebelumnya merasa senyaman ini dengan seseorang. Tak perlu aku menjadi siapa-siapa, aku bisa bebas menjadi aku yang terkadang terlalu aneh ini.
Iyaa kamu manusia extrovert yang bisa dengan mudah dekat dengan siapapun. 
Lalu aku, introvert yang super pemilih yang cuma bisa dekat dengan jenis manusia tertentu.
Kenapa aku begitu? Karena tidak semua orang bisa cocok dengan pikiran dan imajinasiku, dengan segala macam pemikiran yang kalo didengar orang lain, mungkin aku bisa dianggap aneh.
Tapi denganmu aku bisa menjadi aku. Semua hal bisa ku ceritakan tanpa perlu merasa canggung. 

Menemukan kamu setelah lebih dari seperempat abad hidup dinunia ini. Ohh betapa Tuhan Maha Baik. 
Jadi kamu tau kan betapa berharga nya kamu saat ini dihidupku. 
Lalu terbesit dalam benak, jika suatu saat nanti kamu jauh. Atau mungkin aku yang menjauh. 
Rasanya aku tak ingin pernah membayangkannya. 
Tapi semua mungkin saja terjadi. 

Sekalipun kita tidak selalu bertemu dan tak selamanya semua akan seperti ini, nama mu selalu ada dalam doa-doa ku. 
Bahagialah kamu selalu, dimanapun. 
Kalau hari ini mungkin tidak sebaik harapmu, bersabarlah. Aku yakin Tuhan punya rencana besar dan indah untukmu.
Kamu layak untuk bahagia dan layak dicintai. 

.... 


Untukmu, dari aku yang begitu banyak belajar darimu tentang hidup.
Terimakasih untuk semua hal yang sudah kita lalui.



Thursday, March 19, 2020

Friend's of mine

Setelah membaca tulisan seorang teman, aku jadi ingin menuliskan soal kalian. 
Sekedar untuk mengingat dan melegakan hati, untuk hal-hal yang kadang tak bisa dibagi. 
Sebenarnya kalian lebih dari sekedar tulisan ini. Ada banyak hal yang tidak bisa ku tulis, tapi setidaknya ini bisa jadi gambaran, betapa kalian sungguh berarti. 

........ 

Setahun belakangan ini kita begitu dekat, hampir tiap hari ngobrol di watssap, apapun bisa kita ceritakan, dan ga akan ada yang nge-judge satu sama lain.
Selalu ngedukung , meng-apresiasi, ngasih insight positif dan semua hal baik tentang apapun itu yang bisa kita bagi.

Seumur hidup di dunia ini, susah banget nyari temen yang frekuensi nya sama dan kalian hadir melengkapi hidupku yang selama ini ga pernah aku temukan sebelumnya.
Kalian berharga, lebih dari apa yang kalian kira.
Aku ga tau apa kalian merasa hal yang sama. Tapi introvert seperti aku ini engga gampang menemukan orang yang bisa benar-benar dekat.
Kalian teman diskusi, berbagi cerita, keluh kesah, bahagia, tangis dan semua emosi yang ada.
Se-nyaman itu ada dekat kalian. Se-bahagia itu ketemu kalian. Se-bersyukur itu Tuhan kasih kesempatan aku bisa dekat sama kalian. Terimakasih Tuhan.

Kalian semua orang yang selalu punya tujuan baik, yang selalu berusaha membagi kebahagiaan sama orang lain.
Yang berjuang untuk mimpi-mimpi, yang punya pandangan hidup baik.
Kalau boleh aku bilang, semua hal baik ada pada kalian.

Tiba - tiba kepikiran, gimana rasanya kalau harus kehilangan kalian suatu saat nanti.
Kita masih bisa bersama saat ini, bisa ngobrol kapanpun kita mau, cerita apapun.
Bikin janji buat sekedar denger cerita atau minum kopi teh bareng.
Sekarang iya, kita masih bisa ngelakuin itu semua.
Tapi semua ini ga selamanya kan?
Mungkin suatu saat semua akan berubah.
Saat kita punya jalan hidup masing-masing yang ga mungkin sama.

Waktu nulis ini, inget kalian saat kita sama-sama saling cerita, atau minum kopi teh bersama.
Rasanya takut kalau harus kehilangan.
Aku se-bahagia itu bisa sama-sama kalian sekarang.
Tapi tahu, kalau ga mungkin kita sama-sama terus.
Masing-masing kita punya mimpi, tujuan hidup yang ga cuma sampai disini.
Hanya tinggal menunggu waktu sampai kita ada pada kehidupan kita masing-masing.

Aku cuma mau bilang, kalau kalian itu sangat berharga, kalian semua patut berbahagia.
Doaku untuk kalian dimanapun berada, semoga kehidupan membawa kalian kepada harapan-harapan baik yang kalian impikan.
.

Untuk kalian yang mengisi hariku dengan penuh bahagia.
Rio, Sarah, Melia.

Terimakasih telah hadir di dunia.





Counter