Sunday, January 21, 2018

Bukan Bintang Jatuh

Pagi itu ada yang berbeda. 
Hadirnya membuat senyum tawa karena anggapan kemeja baju yg kebesaran atau pertama kalinya masuk kerja. Lalu terbesit lucu jugaa. Sudahlah abaikan dia bukanlah pria yg kamu cari, lagi lagi wanita itu bicara pada diri sendiri.  Selang waktu berganti  rasanya seperti rutinitas pagi yang biasa melihat wajah polosnya yang seakan bisa ditebak .Dia dan dia lagi.
Semua biasa saja senyum ketika saling tatap lalu lupa .

Hingga entah kapan rasanya ada yang berbeda, entah terlalu sering melihatnya atau lama-lama kamu suka. Perasaan itu datang tiba-tiba  saat pagi berganti malam dan lagi-lagi dia . Lalu kamu mulai terus mencari-cari tentangnya. Mencarinya setiap saat. Mencoba melihatnya dari berbagai sudut. Dan tiba saat kamu mulai jengah dengan perasaan ini. Kini pantulan bayangan dari balik kaca-lah yang menjadi harapanmu tiap pagi dan malam. 

Ada harap yang ingin kamu sampaikan dari sudut tempatmu berada. Kini tak berani kamu memandang wajahnya. Jantungmu berdetak sangat tidak normal saat kamu melihaatnya. Apakah ini wajar? Tak pernah sedetikpun kamu tidak mencarinya, tapi saat ia berada dalam jangkauan jarak pandangmu kamu akan berusaha pada jarak aman untuk memandanginya, berharap oksigen disekitarnya berubah menjadi kata-kata dalam benakmu yang iya hirup dan rasakan mengalir dalam tubuhnya. Hingga tak perlu lagi aku katakan apapun, sekalipun aku tak akan pernah mengatakan apapun padanya. "Hai, adakah kamu tau , aku lelah dengan semua rasaku, hilanglah engkau wahai bintang jatuh" 

Begitu anggapanmu tentangnya, hingga pada suatu saat kamu mulai jengah, kamu mulai lelah , senyumnya tak cukup untuk membuat jantungmu berdebar seperti sebelumnya, kehadirannya kini hanya pantulan cahaya yang tak akan bertahan lama. 

Lalu kamu akan mulai melihat dia dengannya lalu pergi ke arah berbeda. Harapmu hilang, lagi-lagi bintang jatuh itu tak benar-benar jatuh.

No comments:

Post a Comment

Counter