Sejenak lingkunganmu berubah menjadi abu-abu pekat, tidak ada putih yang cukup berharga untuk ditunggu. Hitam juga rasanya terlalu kasar untuk menyebutnya.
Datang setiap pagi menjadi formalitas belaka yang hanya harus kamu datangi hanya untuk sekedar "ADA".
Ada hanya untuk hadir tanpa ada jiwa sesungguhnya yang disana. Menyapa tanpa perlu kata. Diam menjadi pilihan yang baik untuk saat ini.
Kamu tak butuh dengar apa lagi, semua pembicaraan panjang itu rasanya hanya membuang waktu . Pergi sementara menjadi pilihanmu yang paling cepat untuk menghindari perdebatan yang dirasa tidak cukup diperlukan.
Entah sejak kapan semua amarah itu terpendam dan saat semua ingin keluar ada getar yang tertahan dalam benak, kamu tak cukup kuat berkata-kata. Jika harus dilanjutkan , tak bisa ditebak tangis yang akan keluar saat semua kata mulai terucap dan lagi-lagi kamu memilih diam agar tidak meledak.
Bukan siapa , apa, bagaimana atau apapun yang bisa disalahkan. Semua sedang tidak berpihak pada kita. Kita yang hanya menjadi pion-pion terdepan untuk menghadang musuh nyatanya tidak disenjatai cukup untuk berperang dan hanya akan menyisakan luka yang begitu mendalam jika memilih terus maju, lalu kamu pikir bagaimana semua ini bisa bertahan? karena kamu tidak akan memilih berperang sendiri lalu mati, bukan? Mundur dalam peperangan ini bukan tindakan pengecut dalam hal ini karena semua orang akan berusaha menjaga titik aman ditempatnya masing-masing.
Harapmu mungkin sama dengan yang lain, ribuan jam bersama rasanya tidak pantas jika kita saling mencerca. Semua harap dan doa untuk kita yang telah merasa seperti keluarga. Bertahan atau pergi adalah pilihan, esok tidak ada yang tahu bagaimana semua ini.
Aku tau harapmu pergi jauh, jika ada dimensi lain yang bisa kamu tempuh, aku tahu pilihanmu pasti itu.
No comments:
Post a Comment