Ada sedikit kemalasan yang tercipta , karena libur panjang sudah di depan mata.
Perempuan itupun merasakan hal yang sama, walau nyatanya belum ada rencana tercipta ingin kemana. Berharap dia yang ditunggu jadi mengajak nya ke suatu tempat.
Canda tawa seperti biasa disela-sela aktivitas, berkeliling hanya untuk sekedar menyapa.
Semua nampak biasa saja.
Lalu semua mendadak kelabu, temaram penuh amarah tanpa alasan.
Perempuan itu jelas tau, kenapa dirinya kesal.
Suatu beban yang telah lama ia hindari seperti datang kembali.
Bukan salah siapa-siapa jika seorang pergi, kemudian beban nya harus dilimpahkan kepada yang lain.
Tak ada yang salah dengan itu.
Meraka boleh pergi, mengejar apa yang dicari, meraih apa yang dimimpi.
Tapi seperti sebuah luka yang terulang kembali, lagi dan lagi.
Raut muka nya kian berubah, yang tadinya bercanda hilang sudah.
Tanyakan apapun pada perempuan itu, yang ada hanya akan dijawab dengan muka masam
Jangan coba-coba dekatinya saat ini. Jangan.
Walau hanya diam, tak bergeming , amarahnya sedang memuncak .
Hatinya sedang tidak bersahabat.
Perempuan itu kemudian menarik nafas dalam.
Setelah mengerutkan wajah di sisa hari nya itu, ia berkata pada dirinya sendiri.
Seperti hal yang biasa dilakukanya, monolog hari itupun terjadi.
....................................
"Sebenarnya kamu kesel sama siapa? marah sama siapa, memangnya ada yang salah?"
"Ga ada yang salah disini, saya cuma kesel saja sama semuanya, saya udah berusaha menghindar susah payah, kenapa beban itu harus dikembalikan lagi ke saya?
"Kamu tau kan kalo kesal mu itu tak beralasan?"
"iya saya tau, saya tau ga seharusnya saya kesal, saya tau ga seharusnya saya begini"
"Lantas kenapa kamu masih kesal?"
"Saya kesal saja , kenapa harus saya yang dilimpahi beban itu lagi, kenapa bukan yang lain? saya dulu melepasnya karena saya ga suka, terus kenapa harus saya lagi sekarang?"
"Kamu tau kan kalo kamu ga bisa nolak itu semua?"
"iyaa tau , ga bisa"
"Kamu punya jalan keluar lain?"
"Ga ada"
"Lantas kamu kesel -kesel sendiri ada gunanya?"
"Ga ada, itu tadi cuma emosi"
...................................
Sebuah monolog yang terus berlanjut di dalam pikiran perempuan itu.
Sampai akhirnya, ia tersenyum sendiri, mendamaikan dirinya sendiri.
Mungkin memang ini yang harusnya terjadi.
Seperti yang sering dikutip. If it's meant to be, it will be.
No comments:
Post a Comment